Workshop Role-Playing: Melatih Anak Menghadapi Situasi Stigma

Sumber: https://share.google/zNzCfAr7EqvFIF7vd
Role-playing memberi kesempatan bagi anak untuk belajar melalui praktik
langsung. Dengan memainkan situasi sosial tertentu, mereka dapat memahami
dampaknya lebih jelas. Edukasi semacam ini penting karena stigma sering muncul
dalam kehidupan sehari-hari. Anak perlu dilatih untuk merespons stigma dengan
cara yang tepat. Workshop role-playing membantu mereka mempersiapkan diri
menghadapi situasi nyata.
Skenario yang digunakan harus realistis namun tetap ringan bagi anak SD.
Contohnya, teman menolak duduk bersama karena mendengar rumor tentang penyakit.
Situasi seperti ini sering terjadi dalam kehidupan sekolah. Guru harus
merancang skenario yang mudah dipahami anak. Skenario tersebut menjadi dasar
latihan empati dan keberanian.
Setelah skenario ditampilkan, siswa dilatih untuk memberikan respon
positif. Mereka diajarkan menggunakan kalimat berbasis fakta seperti “Kamu
tidak bisa tertular dengan cara itu.” Latihan ini membantu anak mengoreksi
stigma yang beredar. Respon yang benar memperlihatkan keberanian dan empati.
Dengan latihan, anak dapat menghadapi situasi nyata dengan percaya diri.
Pergantian peran membantu siswa melihat masalah dari berbagai sudut
pandang. Mereka bergantian menjadi pelaku stigma, korban, dan pembela.
Pengalaman ini meningkatkan pemahaman emosional terhadap situasi tersebut.
Siswa menjadi lebih peka terhadap perasaan orang lain. Praktik ini memperkuat
kemampuan mereka menjadi pembela yang baik.
Role-playing membentuk memori otot sosial pada anak. Mereka belajar secara langsung bagaimana bersikap dalam situasi sulit. Latihan ini mengajarkan empati dan keberanian dalam satu waktu. Siswa pun lebih siap menjadi pembela teman yang terstigma. Oleh sebab itu, workshop role-playing sangat penting dalam edukasi HIV/AIDS.