Melatih Refleks Siswa: Perbedaan Penanganan Gempa dan Kebakaran
Sumber:
Gemini AI
Refleks siswa
dalam menghadapi bencana tidak muncul secara spontan, tetapi dibentuk melalui
pemahaman dan latihan yang konsisten. Dua jenis bencana yang paling sering
disimulasikan di sekolah adalah gempa bumi dan kebakaran. Keduanya sama-sama
bersifat darurat, namun membutuhkan respons yang sangat berbeda. Oleh karena
itu, penting bagi sekolah untuk melatih refleks siswa dengan menekankan
perbedaan penanganan antara gempa dan kebakaran agar tidak terjadi kesalahan
fatal saat kondisi nyata.
Pada saat gempa
bumi, prinsip utama yang harus ditanamkan kepada siswa adalah melindungi diri
dari runtuhan benda. Respons yang dilatih biasanya berupa “turun, lindungi, dan
bertahan” dengan memanfaatkan meja atau struktur kokoh. Siswa diajarkan untuk
tidak langsung berlari keluar kelas karena risiko tertimpa bangunan atau benda
jatuh masih sangat tinggi selama getaran berlangsung. Refleks ini menekankan
keselamatan diri sebelum mobilisasi.
Sebaliknya, pada
kebakaran, respons utama justru adalah segera menjauh dari sumber bahaya. Siswa
perlu dilatih untuk mengenali tanda kebakaran seperti asap dan bau terbakar,
kemudian bergerak cepat menuju jalur evakuasi. Dalam kebakaran, berdiam diri di
dalam ruangan justru meningkatkan risiko sesak napas akibat asap. Oleh karena
itu, refleks evakuasi pada kebakaran harus bersifat cepat, terarah, dan tidak
kembali ke dalam ruangan.
Perbedaan ini
sering kali membingungkan siswa jika tidak dilatih secara spesifik. Anak-anak
usia sekolah dasar cenderung menggeneralisasi respons darurat, misalnya selalu
berlari keluar kelas saat bahaya. Tanpa pemahaman yang tepat, respons ini bisa
berbahaya saat gempa. Oleh karena itu, guru perlu menekankan bahwa setiap
bencana memiliki “aturan keselamatan” yang berbeda dan tidak bisa diperlakukan
sama.
Latihan refleks
sebaiknya dilakukan melalui simulasi terpisah dengan skenario yang jelas. Guru
perlu menjelaskan konteks sebelum simulasi dimulai, misalnya dengan kalimat
sederhana: “Kalau lantai bergoyang, kita berlindung. Kalau ada api dan asap,
kita keluar.” Pengulangan kalimat kunci seperti ini membantu siswa membentuk
memori refleks yang kuat dan mudah diingat.
Dengan melatih
refleks siswa secara spesifik sesuai jenis bencana, sekolah membekali anak
dengan keterampilan hidup yang krusial. Refleks yang tepat bukan hanya
menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga membantu menjaga ketertiban dan
keselamatan bersama. Pendidikan kebencanaan yang membedakan penanganan gempa
dan kebakaran merupakan fondasi penting dalam membangun sekolah yang aman dan
tangguh.
Editor: Firstlyta
Bulan