Seminar Nasional “FUNDANESA: Forum on Understanding and Developing Advanced Innovation for Elementary Studies in Indonesia”
SURABAYA—Fakultas
Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar Seminar
Nasional “FUNDANESA: Forum on
Understanding and Developing Advanced Innovation for Elementary Studies in
Indonesia” dengan tema “Artificial Intelligence dan Coding dalam
Pembelajaran di Pendidikan Dasar: Membangun Berpikir Komputasional dan
Kreativitas Anak di Era Teknologi dalam Mendukung Astacita” pada hari Selasa,
21 Oktober 2025. Seminar ini diselenggarakan secara hybrid, baik melalui
platform Zoom maupun secara langsung di O1 Lantai 1 FIP UNESA yang dihadiri
oleh sejumlah 100+ peserta dari berbagai universitas maupun guru sekolah dasar,
tenaga pendidik FIP UNESA, dan menghadirkan berbagai narasumber hebat yang
membahas tema besar tersebut.
Seminar
ini menghadirkan Prof. Dr. Suryanti, M.Pd., Koorprodi S3 Pendidikan Dasar FIP
UNESA, Prof. Dr. Mochamad Nursalim, M.Si., Dekan
FIP UNESA, Rina Imayanti, S.Si., M.Ak., Pakar Bidang Inovasi dan
Tranformasi Pembelajaran Direktorat SMA Kemendikbudristek RI, Prof. Dr.
Deddy Barnabas` Lasfeto, ST., MT, Guru Besar Bidang Kepakaran: Teknologi
Pembelajaran Digital dan komputasi, Politeknik Negeri Kupang, Dr. Elly Matul
Imah, M.Kom., Koorprodi S1 Kecerdasan Artifisial UNESA.
Acara
dimulai dengan pemaparan materi oleh Rina Imayanti, S.Si., M.Ak., dengan topik “Arah Kebijakan Desain Kurikulum dalam
Mengintegrasikan Kidung dan Kecerdasan Artifisial pada Pendidikan Dasar dan
Menengah”. Dalam sesi ini, narasumber menyampaikan bahwa Kemendikbudristek
mengenalkan mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial sebagai upaya
merespon transformasi digital, serta menyajikan gambaran umum pengembangan
kebijakan yang melalui tahapan identifikasi masalah hingga evaluasi kebijakan.
Beliau juga menekankan bahwa mata pelajaran ini akan diterapkan sebagai mata
pelajaran pilihan dan direncanakan dimulai pada kelas 5 SD pada tahun pelajaran
2025/2026, sesuai pernyataan Prof. Abdul Mutti. "Pembelajaran Koding dan
Kecerdasan Artifisial ini akan kami jadikan sebagai mata pelajaran pilihan
untuk jenjang SD, SMP, dan SMA," ujarnya, sambil menegaskan bahwa desain
dan penggunaan KA harus melayani pengembangan kemampuan manusia dan
mempromosikan keadilan.
Selanjutnya,
Prof. Dr. Deddy Barnabas` Lasfeto, ST., MT., membawakan materi dengan judul “Desain Pembelajaran Coding dalam
Mengoptimalkan Berpikir Komputasional dan Kreativitas”. Dalam sesi ini,
beliau menekankan bahwa pembelajaran AI dan Koding di Sekolah Dasar sangat
penting untuk membangun kemampuan pemecahan masalah, kreativitas, dan kesiapan
siswa menghadapi tantangan teknologi di masa depan. Beliau menjabarkan konsep
Computational Thinking (CT) sebagai proses mental yang fokus pada cara
berpikir, bukan sekadar hasil belajar, dan merekomendasikan pendekatan
pedagogis seperti Project-based learning dan Game-based learning. Untuk
mendukung hal tersebut, beliau menyarankan berbagai aktivitas Koding yang dapat
diterapkan, mulai dari simple algorithm creation hingga penggunaan tools visual
seperti Scratch dan Code.org.
“Implementasi Artificial
Intelligence dan Coding dalam Pembelajaran di Pendidikan Dasar.” Dalam
sesi ini, beliau menyampaikan materi tentang "Pembelajaran Koding dan
Kecerdasan Artifisial di Pendidikan Dasar," dengan menguraikan enam elemen
mata pelajaran KA dan Koding (termasuk Berpikir Komputasional dan Analisis
Data). Beliau menyoroti perlunya adaptasi metode pembelajaran, seperti
kombinasi Plugged (menggunakan perangkat digital) dan Unplugged (tanpa
perangkat), mengingat keragaman kondisi Sekolah Dasar di Indonesia. Beliau juga
sangat menekankan pentingnya aspek Etika KA dan tata kelola, mengutip
rekomendasi UNESCO dan OECD, serta membahas risiko Bias KA (bias input, system,
dan application), untuk memastikan bahwa implementasi teknologi ini sejalan dengan
upaya mewujudkan lulusan yang bertanggung jawab sebagai warga digital global.
Setelah
serangkaian pemaparan dari beberapa narasumber di atas, acara dilanjutkan
dengan Parallel Sessions. Sesi ini terbagi menjadi 10 breakout room yang berjalan dengan lancar dan interaktif,
difasilitasi oleh beberapa dosen FIP UNESA.
Dengan digelarnya seminar nasional ini, FIP UNESA berharap dapat memberikan wawasan baru yang komprehensif kepada para peneliti, praktisi, dan akademisi tentang peran strategis inovasi pendidikan dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Berfokus pada pengembangan pendidikan dasar, acara ini diharapkan menjadi dorongan konkret dalam menciptakan ekosistem pembelajaran yang adaptif serta menghasilkan generasi penerus yang mahir secara teknologi dan berpegang teguh pada nilai-nilai etika.
Author: Elis & Firstlyta Bulan