Guru dan Kecemasan Digital: Antara Adaptasi dan Tekanan Perubahan Teknologi
Sumber: Canva Image
Perubahan teknologi yang begitu cepat membuat banyak guru merasa harus terus mengejar ketertinggalan. Setiap tahun muncul platform baru, aplikasi baru, dan tren pendidikan digital yang berbeda. Tidak semua guru siap, dan tidak semua memiliki ruang belajar yang mendukung. Akibatnya, muncul kecemasan digital perasaan takut salah, takut dianggap tidak kompeten, bahkan takut mengajar.
Kecemasan ini wajar terjadi, terutama pada guru yang tidak tumbuh bersama teknologi. Ketika siswa lebih fasih menggunakan perangkat digital, guru sering merasa posisinya terbalik. Namun, bukan berarti mereka tidak mampu. Tantangannya adalah memberi waktu dan ruang untuk beradaptasi tanpa tekanan berlebihan.
Di banyak sekolah, guru mengakui bahwa perubahan teknologi sering datang lebih cepat dari pelatihan yang disediakan. Workshop biasanya singkat dan padat, sementara aplikasi yang harus dikuasai jauh lebih banyak. Hal ini menyebabkan guru menggunakan teknologi seadanya tanpa benar-benar memahami potensinya.
Dukungan sosial antar-guru menjadi kunci. Guru yang lebih paham teknologi membantu rekan yang membutuhkan. Kebiasaan saling berbagi trik, tutorial, dan cara cepat mengoperasikan alat digital membuat suasana lebih tenang. Sekolah yang mengapresiasi proses daripada hasil instan juga berperan besar mengurangi tekanan psikologis guru.
Namun, penting juga menekankan bahwa guru tidak harus menjadi “ahli teknologi.” Mereka tetap ahli pedagogi dan teknologi hanyalah pelengkap. Dengan memahami batasan ini, guru bisa lebih tenang memilih teknologi yang benar-benar mendukung pembelajaran, bukan sekadar mengikuti tren.
Ruang aman bagi guru untuk mencoba, gagal, lalu mencoba lagi adalah hal yang harus dibangun. Kecemasan digital berkurang ketika guru merasa tidak sendirian dan tidak dinilai hanya dari kemampuan teknis.
Pada akhirnya, Hari Guru mengingatkan kita bahwa adaptasi guru terhadap teknologi adalah perjalanan panjang yang harus dihargai, bukan perlombaan yang membebani. Mereka tidak hanya belajar teknologi, tetapi juga mempelajarinya demi masa depan siswa.
Penulis: Danella Putri
Editor: Firstlyta Bulan