Membangun Integritas Siswa Lewat Teladan Guru
Upaya menanamkan integritas pada peserta didik semakin menjadi prioritas di sekolah-sekolah, terutama di tengah maraknya kasus kecurangan akademik dan perilaku tidak jujur pada generasi muda. Para pendidik menilai bahwa pembentukan integritas tidak cukup hanya melalui pelajaran formal, tetapi jauh lebih kuat melalui keteladanan guru dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Sikap jujur, adil, disiplin, dan bertanggung jawab yang ditampilkan guru menjadi rujukan utama bagi siswa dalam memahami nilai-nilai moral.
Dalam proses pendidikan, siswa secara alami menjadikan guru sebagai figur panutan. Cara guru mengelola tugas, menepati waktu, memperlakukan semua siswa secara setara, hingga bagaimana guru menghadapi kesalahan menjadi contoh langsung bagaimana integritas diterapkan dalam kehidupan nyata. Ketika guru mampu menunjukkan konsistensi antara ucapan dan tindakan, siswa belajar bahwa integritas bukan hanya konsep, tetapi perilaku yang harus dilakukan setiap hari.
Ahli pendidikan moral dari University of Kansas, Prof. Darcia Narvaez (2020), menegaskan bahwa teladan guru memiliki pengaruh kuat dalam perkembangan karakter siswa. “Children internalize moral values by watching the adults who guide them. Teachers become the moral compass in the classroom,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa integritas siswa akan terbentuk lebih efektif ketika mereka menyaksikan praktik integritas secara nyata daripada sekadar mendengar ceramah.
Pendapat serupa disampaikan oleh pakar etika pendidikan dari Stanford University, Dr. Bryk Felton (2021), menekankan bahwa guru memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan belajar yang etis. “A trust-rich environment, led by teachers who model integrity, is essential for students to develop moral responsibility,” katanya. Artinya, sekolah yang dipandu guru berintegritas tinggi memiliki peluang besar melahirkan generasi yang jujur dan bertanggung jawab.
Di banyak daerah, sekolah mulai menerapkan pendekatan pembiasaan integritas, seperti kelas kejujuran, proyek layanan masyarakat, dan kegiatan refleksi moral. Guru tidak hanya mengajarkan tentang kejujuran, tetapi juga menunjukkan bagaimana bersikap jujur dalam proses penilaian, pengambilan keputusan, serta interaksi sosial. Pendekatan ini membuat siswa melihat langsung bagaimana integritas menjadi bagian penting dalam kehidupan akademik dan sosial.
Melalui keteladanan guru yang konsisten, sekolah dapat membangun fondasi karakter yang kuat bagi peserta didik. Integritas yang ditanamkan sejak dini akan menjadi bekal penting ketika siswa memasuki masyarakat dan dunia kerja. Dengan guru yang berperan sebagai model moral, generasi muda Indonesia diharapkan tumbuh sebagai pribadi yang jujur, berani, bertanggung jawab, dan mampu menolak segala bentuk penyimpangan dalam kehidupannya kelak.
Author: Wasis Suprapto
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI