"Saya memang tidak bakat matematika." Kalimat ini adalah gejala klasik dari Fixed Mindset—keyakinan bahwa kemampuan adalah harga mati yang tidak bisa berubah. Di sinilah peran transformatif seorang guru diuji: mengubah kalimat itu menjadi, "Saya belum menguasai ini sekarang, tapi dengan latihan, saya akan bisa." Inilah Growth Mindset.
Transformasi pola pikir ini adalah inti dari pendidikan karakter modern. Melalui sebuah studi kasus di kelas, kita bisa melihat bagaimana guru tidak lagi memuji kecerdasan ("Wah, kamu pintar sekali!"), melainkan memuji proses dan ketekunan ("Ibu bangga kamu tidak menyerah mencari jawaban soal sulit ini"). Pergeseran narasi ini nampak sederhana, namun dampaknya luar biasa.
Siswa yang memiliki Growth Mindset tidak melihat kegagalan sebagai vonis kebodohan, melainkan sebagai data untuk perbaikan. Guru yang menanamkan mentalitas ini sedang membentuk karakter siswa yang ulet, berani mengambil risiko, dan mencintai tantangan. Di era yang serba tidak pasti ini, memberikan siswa mentalitas bertumbuh adalah bekal terbaik yang bisa diberikan oleh pendidikan dasar.