Kearifan Lokal "Smong" dan Relevansinya dalam Pendidikan Modern
Kearifan lokal "Smong" yang berasal dari masyarakat Simeulue, Aceh, merupakan bukti nyata bahwa pengetahuan tradisional memiliki kekuatan luar biasa dalam menyelamatkan nyawa dari ancaman tsunami. Istilah "Smong" sendiri merupakan sebuah narasi dalam bentuk syair dan cerita lisan yang menceritakan tentang air laut yang surut setelah gempa besar sebagai pertanda akan datangnya gelombang raksasa. Dalam konteks pendidikan modern di sekolah dasar, integrasi nilai-nilai Smong memberikan dimensi baru bahwa literasi bencana tidak harus selalu datang dari perangkat teknologi mutakhir. Guru dapat menggunakan syair-syair ini untuk mengajarkan siswa tentang tanda-tanda alam secara intuitif tanpa menghilangkan sisi ilmiah dari fenomena tersebut. Pembelajaran berbasis kearifan lokal ini sangat efektif untuk membangun kedekatan emosional siswa dengan sejarah lingkungan tempat tinggal mereka yang unik. Dengan menghidupkan kembali tradisi lisan ini, sekolah dasar di seluruh Indonesia dapat belajar bagaimana sebuah narasi sederhana mampu bertahan melewati generasi. Pengetahuan ini menjadi suplemen berharga bagi kurikulum formal yang seringkali terlalu fokus pada data teknis yang sulit diingat oleh anak-anak usia dini.
Relevansi Smong dalam pendidikan abad ke-21 terletak pada kemampuannya untuk menyederhanakan prosedur mitigasi yang kompleks menjadi sebuah budaya yang melekat dalam ingatan kolektif. Siswa diajak untuk memahami bahwa leluhur kita telah memiliki sistem peringatan dini yang sangat efektif jauh sebelum sensor elektronik ditemukan dan digunakan secara luas. Di dalam kelas, guru dapat membandingkan data seismograf modern dengan deskripsi dalam syair Smong untuk menunjukkan konsistensi informasi ilmiah di dalamnya. Aktivitas ini melatih kemampuan berpikir kritis siswa dalam memverifikasi pengetahuan tradisional melalui kacamata sains modern yang rasional dan objektif. Selain itu, penggunaan kearifan lokal ini juga memperkuat identitas nasional dan rasa bangga siswa terhadap kecerdasan nenek moyang bangsa Indonesia. Inilah esensi dari pendidikan kontekstual, di mana materi pelajaran tidak berjarak dengan realitas sosial dan sejarah masyarakat di sekitarnya. Dengan melestarikan kearifan seperti Smong, kita sedang memastikan bahwa pelajaran berharga dari masa lalu tetap menjadi pelindung bagi generasi masa depan.
Pakar antropologi pendidikan, Dr. Reiza Patters, menegaskan bahwa kearifan lokal adalah "arsip keselamatan" yang harus segera diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan dasar secara nasional. Beliau menyatakan, "Smong membuktikan bahwa bahasa yang menyentuh rasa dan budaya jauh lebih efektif dalam menggerakkan aksi penyelamatan diri dibandingkan sekadar instruksi formal yang kaku." Pernyataan ini memberikan arah bagi para pengembang kurikulum untuk tidak mengabaikan tradisi lokal dalam menyusun strategi pengurangan risiko bencana di sekolah. Guru-guru di daerah lain di Indonesia juga didorong untuk menggali potensi kearifan lokal serupa yang mungkin ada di wilayah mereka masing-masing. Sinergi antara ilmu pengetahuan modern dan kebijaksanaan tradisional akan menciptakan masyarakat yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak dalam menyikapi alam. Pada akhirnya, Smong adalah warisan kemanusiaan yang mengajarkan kita bahwa waspada adalah kunci utama untuk hidup berdampingan dengan potensi bencana di nusantara.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita