Transformasi Perilaku Siswa: Dampak Memahami Makna Isra Mi’raj
Peringatan Isra Mi’raj di lingkungan sekolah dasar seharusnya tidak berhenti pada acara seremonial semata, melainkan harus mampu mendorong transformasi perilaku siswa secara nyata dan berkelanjutan. Pemahaman yang mendalam tentang perjalanan Rasulullah akan menginspirasi siswa untuk memperbaiki akhlak mereka terhadap guru, orang tua, maupun teman sebaya di sekolah. Isra Mi’raj mengajarkan tentang kesucian hati sebagai prasyarat utama untuk mendekat kepada Allah, yang berarti siswa harus belajar membersihkan diri dari sifat sombong, iri, dan dengki. Perubahan perilaku ini merupakan indikator keberhasilan pendidikan agama yang tidak hanya menyentuh aspek kognitif, tetapi juga merasuk ke dalam aspek afektif siswa. Guru dapat memantau perkembangan karakter siswa melalui observasi harian dan memberikan bimbingan yang relevan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa tersebut. Ketika seorang siswa mulai menunjukkan sikap lebih peduli dan santun setelah mempelajari Isra Mi’raj, itulah esensi dari pendidikan yang memanusiakan manusia.
Transformasi perilaku melalui pemaknaan Isra Mi’raj juga dapat dilihat dari meningkatnya rasa tanggung jawab siswa terhadap tugas-tugas sekolah dan kebersihan lingkungan. Rasulullah SAW kembali dari perjalanan langit dengan membawa tanggung jawab besar bagi umatnya, yang menunjukkan bahwa pengalaman spiritual harus berdampak pada aksi nyata di dunia. Guru perlu menekankan bahwa tanda seseorang telah memahami Isra Mi’raj adalah adanya peningkatan kualitas disiplin dan kejujuran dalam setiap tindakan kecil yang mereka lakukan. Perilaku menyimpang seperti perundungan (bullying) atau kecurangan dalam ujian dapat diminimalisir jika siswa sadar bahwa Allah selalu mengawasi setiap langkah mereka sebagaimana dalam peristiwa Mi’raj. Pembentukan atmosfer sekolah yang religius dan penuh kasih sayang akan mendukung proses perubahan perilaku siswa ke arah yang lebih positif secara kolektif. Setiap siswa diajak untuk melakukan 'perjalanan perbaikan diri' secara konsisten menuju versi terbaik dari kepribadian mereka masing-masing.
Menurut Dr. Zainal Abidin, seorang konsultan psikologi pendidikan, "Perubahan perilaku yang didasari oleh motivasi spiritual memiliki daya tahan yang jauh lebih lama dibandingkan perubahan yang dipicu oleh aturan eksternal saja." Beliau menjelaskan bahwa saat siswa menginternalisasi nilai-nilai Isra Mi’raj, mereka sedang membangun sistem kontrol internal yang kuat di dalam hati nurani mereka sendiri. Hal ini sangat penting bagi siswa sekolah dasar sebagai bekal saat mereka memasuki masa remaja yang penuh dengan tantangan pergaulan yang kompleks. Pendidikan harus mampu menjelaskan bahwa setiap perbuatan baik yang dilakukan siswa adalah bentuk 'pendakian' menuju kemuliaan di sisi Allah dan manusia. Dengan demikian, ketaatan pada aturan sekolah tidak lagi dianggap sebagai paksaan, melainkan sebagai bentuk pengabdian hamba kepada Sang Pencipta yang Maha Mengatur. Guru memiliki peran sentral dalam memberikan umpan balik positif terhadap setiap perubahan kecil yang ditunjukkan oleh siswa dalam interaksi sosial mereka.
Selain itu, transformasi perilaku juga mencakup aspek kepemimpinan dan kerja sama tim yang dicontohkan melalui peran Rasulullah sebagai imam para nabi di Masjidil Aqsa. Siswa diajak untuk memahami bahwa menjadi pemimpin berarti harus memiliki integritas, kesabaran, dan kemampuan untuk merangkul semua pihak demi tujuan yang mulia. Di dalam kelas, nilai ini dapat diimplementasikan melalui kerja kelompok di mana siswa belajar untuk saling menghargai pendapat dan membantu teman yang mengalami kesulitan belajar. Penanaman nilai-nilai Isra Mi’raj akan melahirkan siswa yang tidak hanya kompetitif secara akademis, tetapi juga kooperatif dalam membangun kebaikan bersama di lingkungan sekolah. Setiap perubahan perilaku positif yang terjadi pada siswa adalah kontribusi nyata bagi terciptanya budaya sekolah yang harmonis, aman, dan penuh keberkahan. Pendidik harus terus memberikan narasi yang menguatkan bahwa perilaku baik adalah cerminan dari iman yang kuat dan pemahaman agama yang benar.
Transformasi perilaku adalah tujuan akhir dari setiap proses pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual ke dalam kurikulum sekolah dasar. Mari kita jadikan makna Isra Mi’raj sebagai mesin penggerak bagi perubahan karakter siswa menjadi lebih mulia, tangguh, dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Tugas kita tidaklah ringan, namun dengan kesabaran dan keteladanan, kita bisa melihat tunas-tunas bangsa ini tumbuh dengan akhlak yang menyinari dunia. Setiap butir hikmah dari perjalanan Rasulullah harus kita terjemahkan ke dalam panduan perilaku yang praktis dan mudah diikuti oleh anak didik kita setiap hari. Semoga sekolah-sekolah kita menjadi tempat di mana karakter dibentuk dengan cinta dan iman, sehingga melahirkan generasi yang benar-benar mewarisi sifat-sifat kenabian. Mari kita terus berupaya memberikan yang terbaik bagi perkembangan jiwa anak-anak kita, demi masa depan peradaban yang lebih bermartabat dan religius.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita