Aksi Kolektif untuk Bangkit Bersama
Pascabencana,
aksi kolektif menjadi kekuatan utama yang mendorong masyarakat untuk bangkit
dari keterpurukan. Warga saling bergotong royong membersihkan puing, membangun
hunian sementara, serta membagikan kebutuhan pokok. Kehadiran relawan,
organisasi kemanusiaan, dan pemerintah memperkuat koordinasi, sehingga bantuan
dapat tersalurkan secara merata. Aksi bersama ini tidak hanya mempercepat
pemulihan fisik, tetapi juga membangun rasa kebersamaan dan solidaritas yang
menjadi fondasi psikososial masyarakat.
Dalam
perspektif teori social capital yang dikemukakan Robert Putnam, jaringan
kepercayaan, norma gotong royong, dan partisipasi warga berperan penting dalam
meningkatkan kapasitas kolektif masyarakat untuk menghadapi bencana. Dengan
modal sosial yang kuat, masyarakat mampu bekerja sama lebih efektif,
menyelesaikan masalah bersama, dan mempercepat proses pemulihan. Aksi kolektif
yang terorganisasi menjadi bukti nyata bagaimana modal sosial memperkuat daya
lenting komunitas pascabencana.
Dari
sisi psikologi, prinsip Psychological First Aid (PFA) menekankan
pentingnya dukungan emosional dalam fase awal pemulihan. Dalam konteks aksi
kolektif, kehadiran relawan dan anggota komunitas yang peduli memberikan rasa
aman, mendengarkan keluh kesah korban, serta membantu mereka menata kembali
emosi dan harapan. Pendekatan ini membantu mengurangi trauma dan menumbuhkan
ketahanan mental sekaligus memperkuat ikatan sosial antarwarga.
Seiring waktu, aksi
kolektif berkembang menjadi kekuatan jangka panjang bagi komunitas. Warga tidak
hanya terlibat dalam pembangunan kembali hunian dan fasilitas umum, tetapi juga
dalam pemulihan mata pencaharian dan penguatan kesiapsiagaan menghadapi risiko
di masa depan. Dengan mengintegrasikan prinsip social capital dan PFA,
aksi kolektif membentuk fondasi masyarakat yang tangguh, resilien, dan siap
menghadapi tantangan bersama.
Author: Wasis Suprapto
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita