
Sumber: Guruinovatif.id
Ada pepatah lama, "Guru kencing berdiri, murid kencing berlari." Di era digital, pepatah ini menjadi semakin menakutkan karena setiap tindakan guru berpotensi terekam, terunggah, dan menjadi viral dalam hitungan detik. Guru kini hidup dalam "rumah kaca"; transparan dan diawasi dari segala arah.
Menjaga keteladanan di era digital adalah tantangan psikologis tersendiri. Bagaimana seorang guru bisa mengajarkan siswa untuk bijak bermedia sosial jika gurunya sendiri sering mengeluh kasar di status Facebook atau membagikan konten yang belum terverifikasi?
Strategi utama bagi guru adalah integrasi integritas. Tidak boleh ada wajah ganda antara "Pak Guru di kelas" dan "Akun anonim di media sosial". Guru perlu menyadari bahwa profil digital mereka adalah perpanjangan dari otoritas moral mereka di kelas. Strategi paling ampuh adalah dengan menjadikan media sosial pribadi sebagai ruang inspirasi—menunjukkan hobi yang positif, bahasa yang santun, dan pemikiran yang menyejukkan. Dengan begitu, teknologi tidak menggerus wibawa, melainkan memperkuat keteladanan.