Tantangan Gizi di Era Digital: Pengaruh Iklan Makanan Instan pada Anak
Era digital membawa tantangan baru dalam upaya pencegahan stunting dan malnutrisi, di mana anak-anak sekolah dasar kini terpapar iklan makanan instan secara masif melalui berbagai platform media sosial. Iklan-iklan ini sering kali menggunakan visual yang sangat menarik dan menggandeng idola anak-anak untuk mempromosikan produk tinggi gula, garam, dan lemak jahat. Akibatnya, preferensi rasa anak terbentuk ke arah makanan olahan yang miskin nutrisi esensial, yang secara perlahan menggeser selera mereka terhadap makanan rumah yang lebih sehat. Guru dan orang tua kini harus bekerja ekstra keras untuk melawan arus informasi yang memuliakan makanan "sampah" (junk food) sebagai gaya hidup modern yang keren. Literasi digital dan literasi gizi kini menjadi dua hal yang harus diajarkan secara beriringan di sekolah dasar guna melindungi siswa dari manipulasi pemasaran.
Pengaruh iklan digital tidak hanya mengubah keinginan makan, tetapi juga mengganggu persepsi anak mengenai citra tubuh dan kesehatan yang ideal. Banyak produk makanan rendah gizi yang dikemas dengan klaim kesehatan palsu, seperti "penambah energi" atau "sumber vitamin", yang menyesatkan anak-anak serta orang tua dengan literasi rendah. Di ruang kelas, guru mungkin melihat siswa yang lebih bangga membawa camilan kemasan bermerek daripada buah atau sayuran segar karena pengaruh tren di internet. Kondisi ini memperparah masalah gizi ganda (double burden of malnutrition), di mana stunting dan obesitas dapat terjadi pada saat yang bersamaan dalam satu populasi sekolah. Sekolah harus menjadi filter informasi yang kritis dengan memberikan pemahaman tentang cara kerja iklan dan dampak nyata konsumsi produk tersebut bagi tubuh.
Seorang pakar komunikasi kesehatan menyatakan bahwa "Anak-anak adalah target paling rentan dalam pemasaran pangan digital karena kemampuan kognitif mereka belum cukup matang untuk membedakan antara informasi edukatif dan bujukan komersial." Oleh karena itu, pemerintah perlu memperketat regulasi mengenai iklan makanan tidak sehat yang menyasar anak-anak di platform digital, sebagaimana yang telah dilakukan di beberapa negara maju. Sekolah dasar dapat mengambil peran dengan memasukkan materi literasi media ke dalam mata pelajaran bahasa atau seni, di mana siswa diajak membedah konten iklan makanan. Melalui pendekatan kritis ini, siswa diharapkan tidak lagi menjadi konsumen pasif, melainkan menjadi subjek yang mampu memilih makanan berdasarkan kebutuhan nutrisi, bukan sekadar godaan visual. Perlawanan terhadap dampak negatif era digital ini membutuhkan kreativitas pendidik dalam menyajikan konten gizi yang tak kalah menarik dari iklan komersial.
Selain literasi, sekolah dapat memanfaatkan teknologi digital secara positif dengan membuat kampanye kreatif kesehatan yang melibatkan siswa sebagai pembuat konten (content creator). Misalnya, siswa ditugaskan untuk membuat video pendek tentang cara membuat bekal sehat atau manfaat protein hewani lokal bagi kecerdasan otak. Dengan melibatkan siswa dalam memproduksi informasi sehat, mereka akan memiliki rasa bangga dan kepemilikan terhadap nilai-nilai gizi yang benar. Kolaborasi dengan orang tua untuk membatasi durasi layar (screen time) dan mengawasi konten yang dikonsumsi anak di rumah juga menjadi sangat krusial. Sinergi antara perlindungan digital dan edukasi nutrisi akan menciptakan lingkungan tumbuh kembang yang lebih aman bagi generasi masa depan. Era digital tidak boleh menjadi penghalang bagi terciptanya generasi emas yang bebas stunting.