Storytelling sebagai Media Edukasi Bahaya Stunting bagi Anak
Pemanfaatan teknik storytelling atau bercerita dalam pendidikan dasar merupakan strategi pedagogis yang sangat efektif untuk menyampaikan isu kesehatan yang kompleks seperti stunting kepada siswa. Anak-anak usia sekolah dasar secara psikologis berada dalam fase imajinatif di mana narasi lebih mudah diterima dan diingat dibandingkan sekadar instruksi faktual yang kaku. Melalui cerita, guru dapat mempersonifikasi zat gizi sebagai tokoh pahlawan dan stunting sebagai hambatan yang harus dikalahkan melalui pola makan sehat. Narasi yang dibangun dengan struktur alur yang jelas membantu siswa memahami hubungan sebab-akibat antara apa yang mereka makan dengan kekuatan tubuh mereka di masa depan. Storytelling mengubah ruang kelas menjadi panggung edukatif yang mampu menyentuh aspek afektif siswa secara mendalam dan berkelanjutan.
Efektivitas bercerita terletak pada kemampuannya untuk membangun empati dan rasa ingin tahu tanpa memberikan kesan menghakimi kondisi fisik siswa. Dalam konteks stunting, guru dapat menggunakan fabel atau legenda lokal yang dimodifikasi untuk menyelipkan pesan tentang pentingnya protein hewani dan sayuran bagi kecerdasan otak. Siswa tidak hanya mendengarkan, tetapi juga diajak untuk memvisualisasikan bagaimana nutrisi bekerja di dalam tubuh mereka seperti sebuah mesin yang membutuhkan bahan bakar berkualitas. Teknik ini juga memungkinkan terjadinya dialog dua arah di mana siswa dapat bertanya dan mengeksplorasi rasa takut atau ketertarikan mereka terhadap makanan tertentu dalam bingkai cerita. Dengan demikian, literasi gizi tidak lagi menjadi beban kognitif, melainkan menjadi pengalaman emosional yang menyenangkan bagi seluruh siswa.
Pakar literasi anak, Dr. Murti Bunanta, menyatakan bahwa "Cerita adalah jendela bagi anak untuk memahami realitas dunia, termasuk realitas kesehatan tubuh mereka sendiri, dengan cara yang paling humanis." Beliau menekankan bahwa guru sekolah dasar harus memiliki keterampilan narasi yang baik agar mampu mentransformasikan data medis mengenai stunting menjadi metafora yang menginspirasi. Penggunaan media pendukung seperti boneka tangan, buku cerita bergambar, atau teater mini dapat memperkuat daya serap anak terhadap pesan-pesan gizi yang disampaikan. Pendidikan gizi berbasis narasi terbukti mampu meningkatkan retensi informasi pada anak dibandingkan metode ceramah satu arah yang sering kali membosankan. Melalui cerita, kita sedang membangun fondasi kesadaran gizi yang akan dibawa anak hingga mereka tumbuh dewasa nanti.
Integrasi storytelling juga dapat dikembangkan lebih lanjut dengan melibatkan siswa untuk menciptakan cerita mereka sendiri tentang petualangan makanan sehat. Aktivitas menulis kreatif ini akan memaksa siswa untuk melakukan riset sederhana mengenai manfaat vitamin dan mineral agar cerita mereka menjadi logis. Hasil karya cerita siswa tersebut kemudian dapat dibacakan di depan kelas atau dibagikan melalui mading sekolah sebagai bentuk apresiasi terhadap pemahaman mereka. Proses kreatif ini memberikan rasa kepemilikan (sense of ownership) bagi siswa terhadap isu kesehatan yang sedang dipelajari bersama. Sekolah juga bisa mengundang pendongeng profesional untuk mengadakan sesi khusus bertema gizi sebagai bagian dari peringatan hari besar kesehatan atau pendidikan.