
Sumber: detikcom
Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan kita, jauh hari telah mengingatkan tentang konsep Tri Pusat Pendidikan: Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat. Namun, dalam praktiknya, ketiga pusat ini seringkali berjalan sendiri-sendiri, bahkan tak jarang saling bertabrakan. Di era modern yang kompleks ini, reaktualisasi sinergi ketiganya menjadi sebuah urgensi.
Siapakah yang harus memimpin orkestra ini? Jawabannya adalah guru. Sebagai kaum intelektual yang paham pedagogi, guru menempati posisi strategis sebagai inisiator dan penggerak. Dalam perspektif pendidikan lanjut, guru dituntut memiliki kemampuan manajerial untuk menyelaraskan visi antara kurikulum sekolah, pola asuh di rumah, dan norma di masyarakat.
Ini bukan tugas ringan. Guru harus mampu mengedukasi orang tua tentang pola asuh yang relevan, sekaligus merangkul tokoh masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak. Artikel ini mengajak kita merenung: keberhasilan pendidikan karakter adalah resultan dari kolaborasi. Tanpa penyelarasan tiga pusat ini, pendidikan hanya akan menjadi upaya parsial yang rapuh. Sinergi adalah kunci untuk membangun benteng karakter yang kokoh bagi generasi bangsa.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita