Shalat sebagai ‘Mi’raj’ Mukmin: Mengajarkan Khusyuk pada Generasi Alpha
Generasi Alpha yang tumbuh dalam kepungan teknologi digital dan stimulasi instan seringkali menghadapi tantangan besar dalam hal fokus dan konsentrasi, termasuk dalam ibadah shalat. Isra Mi’raj memberikan pelajaran berharga bahwa shalat adalah hadiah istimewa yang menjadi sarana bagi setiap mukmin untuk melakukan 'perjalanan spiritual' menemui Tuhannya. Mengajarkan konsep khusyuk kepada anak-anak usia sekolah dasar memerlukan pendekatan yang lebih kreatif, bukan sekadar perintah untuk diam dan bergerak secara mekanis. Guru perlu menjelaskan bahwa saat shalat, mereka sedang berada dalam momen yang sangat eksklusif dengan Allah, mirip dengan momen Rasulullah di Sidratul Muntaha. Khusyuk harus diperkenalkan sebagai bentuk ketenangan batin dan kehadiran hati, di mana segala gangguan duniawi untuk sementara dikesampingkan demi cinta kepada Sang Khalik. Dengan memahami shalat sebagai "mi’raj" pribadi, siswa akan merasa bahwa ibadah ini adalah kebutuhan untuk menyegarkan jiwa mereka di tengah kesibukan sekolah.
Tantangan bagi pendidik di era digital ini adalah bagaimana menarik perhatian siswa yang terbiasa dengan durasi konten singkat agar bisa menikmati durasi shalat dengan penuh kehadiran. Shalat adalah latihan mindfulness terbaik yang bisa diajarkan kepada anak sejak dini untuk membantu mereka mengelola emosi dan pikiran yang sering terdistraksi. Guru dapat mengawali pembelajaran dengan menjelaskan makna dari setiap gerakan dan bacaan shalat agar siswa tidak hanya sekadar menghafal, tetapi juga meresapi artinya. Jika anak tahu bahwa sujud adalah posisi terdekat hamba dengan Allah, mereka akan cenderung lebih menikmati momen tersebut dengan penuh perasaan. Lingkungan sekolah yang tenang dan kondusif saat waktu shalat tiba akan sangat membantu siswa dalam membangun atmosfer kekhusyukan secara kolektif. Pembiasaan ini sangat penting agar shalat tidak dianggap sebagai beban rutinitas, melainkan sebagai waktu istirahat yang paling berkualitas bagi pikiran mereka.
Prof. Dr. Siti Rohmah, seorang pakar perkembangan anak, menyatakan bahwa "Melatih fokus melalui ibadah shalat dapat meningkatkan fungsi eksekutif otak anak, yang sangat berguna bagi keberhasilan akademis dan emosional mereka." Beliau menekankan bahwa khusyuk adalah sebuah keterampilan yang perlu dilatih secara bertahap, mulai dari ketenangan fisik hingga ketenangan pikiran yang lebih dalam. Pendidikan dasar harus mampu memberikan ruang bagi anak untuk merasakan ketenangan tersebut melalui sesi muhasabah atau kontemplasi singkat sebelum memulai ibadah shalat. Generasi Alpha yang sangat rasional perlu diberikan alasan yang kuat mengapa mereka harus meletakkan gawai mereka dan menghadap Allah dengan sepenuh hati. Ketika anak merasakan ketenangan setelah shalat, mereka akan menemukan kaitan antara kepatuhan beribadah dengan stabilitas mental yang mereka rasakan. Inilah inti dari pendidikan karakter yang berbasis pada pengalaman spiritual yang nyata dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, guru juga harus menjadi teladan utama dalam mempraktikkan shalat yang tenang dan tidak terburu-buru di depan siswa-siswi mereka. Anak-anak adalah peniru ulung, sehingga mereka akan melihat bagaimana ekspresi wajah dan sikap tubuh gurunya saat sedang berkomunikasi dengan Allah dalam shalat. Penjelasan tentang Isra Mi’raj yang menjadi latar belakang perintah shalat harus terus diulang dengan berbagai sudut pandang menarik agar memori mereka tetap segar. Pendidik bisa menggunakan metafora bahwa shalat adalah cara kita "mengisi baterai" jiwa agar tetap kuat menghadapi tantangan belajar yang melelahkan. Apresiasi perlu diberikan kepada siswa yang menunjukkan usaha untuk memperbaiki kualitas shalatnya, bukan sekadar menilai dari sisi benar atau salahnya gerakan fisik. Dengan pendekatan yang suportif, siswa akan merasa bangga bisa melakukan 'mi’raj' mereka sendiri lima kali dalam sehari bersama Sang Pencipta semesta.
Sebagai refleksi penutup, mengajarkan shalat yang khusyuk kepada Generasi Alpha adalah upaya penyelamatan mental dan spiritual di tengah arus modernitas yang semakin bising. Mari kita jadikan setiap mushalla sekolah sebagai gerbang menuju langit, tempat di mana anak-anak belajar untuk melepaskan segala beban pikiran dan bersandar sepenuhnya kepada Allah. Melalui pemahaman makna Isra Mi’raj, kita berharap shalat menjadi identitas yang melekat erat dalam kepribadian siswa dan menjadi penolong bagi mereka di masa depan. Pendidikan bukan hanya soal mencetak otak yang cerdas, tetapi juga hati yang mampu bersujud dengan penuh ketundukan dan keikhlasan. Semoga Allah memberikan kesabaran kepada kita para pendidik untuk terus membimbing anak-anak ini dalam meraih kemanisan iman melalui ibadah shalat yang berkualitas. Mari kita terus berusaha mewujudkan generasi yang shalatnya menjadi cahaya bagi diri mereka dan bagi dunia di sekitarnya.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita