Refleksi Isra Mi’raj: Mengapa Shalat Menjadi Kebutuhan, Bukan Beban?
Peringatan Isra Mi’raj sering kali hanya berhenti pada narasi perjalanan fisik, padahal inti dari peristiwa agung ini adalah penyerahan perintah shalat lima waktu sebagai sarana komunikasi hamba dengan Penciptanya. Bagi para siswa dan keluarga di tingkat pendidikan dasar, penting untuk merefleksikan kembali posisi shalat agar tidak lagi dipandang sebagai kewajiban yang memberatkan, melainkan sebagai kebutuhan spiritual yang mendesak. Shalat adalah satu-satunya ibadah yang perintahnya dijemput langsung oleh Rasulullah ke langit, yang menunjukkan betapa istimewanya kedudukan shalat dalam struktur ajaran Islam. Jika kita memahami bahwa shalat adalah waktu khusus di mana kita bisa "bertemu" dan mengadu kepada Tuhan, maka setiap adzan yang berkumandang akan dirasakan sebagai undangan istimewa. Membangun pola pikir ini di lingkungan sekolah akan membantu siswa menjalankan ibadah dengan penuh kesadaran dan kegembiraan, bukan karena takut akan teguran guru atau orang tua.
Secara psikologis, shalat yang dilakukan secara khusyuk berfungsi sebagai mekanisme relaksasi dan mindfulness yang dapat membantu siswa mengelola stres belajar di sekolah. Dalam kondisi sujud, manusia melepaskan segala beban pikiran dan ego, menyerahkan semua urusannya kepada Zat yang Maha Mengatur, sehingga hati menjadi lebih tenang. Dr. Zakiah Daradjat, pakar psikologi agama, pernah mengungkapkan bahwa "Ibadah yang dijalankan dengan pemahaman makna akan memberikan stabilitas emosi dan ketangguhan mental bagi seseorang dalam menghadapi tekanan hidup." Kutipan ini menjadi landasan kuat bagi pendidik untuk mengajarkan makna di balik setiap gerakan dan bacaan shalat kepada siswa agar mereka merasakan manfaatnya secara langsung. Ketika shalat sudah menjadi kebutuhan untuk mencari ketenangan, maka disiplin waktu akan terbentuk dengan sendirinya tanpa perlu adanya paksaan lahiriah.
Guru di sekolah dasar dapat mengimplementasikan refleksi ini melalui sesi bimbingan rohani yang interaktif, di mana siswa diajak berdiskusi tentang perasaan mereka saat dan setelah melakukan shalat berjamaah. Menjelaskan analogi bahwa shalat adalah "baterai" yang harus diisi lima kali sehari agar jiwa tetap berenergi dapat membantu siswa memahami konsep kebutuhan tersebut secara logis. Sekolah juga harus menciptakan suasana mushalla yang bersih, nyaman, dan harum agar siswa merasa betah dan mendapatkan pengalaman ibadah yang menyenangkan. Memberikan apresiasi kepada siswa yang menunjukkan perubahan perilaku menjadi lebih sabar dan jujur setelah konsisten menjaga shalatnya akan memperkuat pemahaman bahwa shalat berdampak pada karakter. Lingkungan sekolah yang menjadikan shalat sebagai pusat aktivitas akan melahirkan budaya religius yang alami dan tidak bersifat formalitas semata.
Di rumah, orang tua memiliki peran krusial untuk tidak menjadikan perintah shalat sebagai ancaman atau beban tambahan bagi anak setelah lelah belajar seharian. Orang tua harus mampu menunjukkan bahwa mereka sendiri membutuhkan shalat untuk mendapatkan ketenangan setelah bekerja, sehingga anak memiliki contoh nyata yang bisa ditiru. Ajaklah anak berdiskusi ringan tentang doa-doa apa saja yang ingin mereka sampaikan kepada Allah di dalam shalatnya agar mereka merasa memiliki kontrol pribadi atas ibadahnya. Jika rumah dipenuhi dengan suasana ibadah yang hangat, maka anak akan tumbuh dengan kecintaan pada shalat sebagai identitas diri yang membanggakan. Keberhasilan orang tua dalam menanamkan nilai shalat sebagai kebutuhan akan menjadi bekal keselamatan anak hingga mereka dewasa dan menghadapi dunia yang lebih luas.
Sebagai refleksi penutup, mari kita jadikan setiap peringatan Isra Mi’raj sebagai titik balik untuk memperbaiki kualitas interaksi kita dengan Allah melalui shalat. Shalat adalah jembatan yang menghubungkan bumi dan langit, yang memberikan kita kekuatan untuk tetap tegar berdiri di tengah badai kehidupan yang tidak menentu. Mari kita didik anak-anak kita untuk menjadi "ahli shalat" yang merindukan pertemuan dengan Tuhannya melalui sujud-sujud panjang yang penuh dengan air mata syukur. Semoga setiap rakaat yang kita dirikan bersama anak didik menjadi bukti nyata bahwa kita adalah hamba-hamba yang sangat membutuhkan bimbingan dan pertolongan-Nya. Dengan menjadikan shalat sebagai kebutuhan, hidup akan terasa lebih bermakna, hati menjadi lebih lapang, dan setiap langkah kita akan selalu dibimbing menuju keberkahan dunia dan akhirat.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita