Refleksi Guru: Apakah Saya Sedang Mengajar atau Mendikte?
Sumber: Gemini AI
Di tengah rutinitas mengajar yang padat, seorang guru perlu sesekali berhenti sejenak, melihat ke cermin, dan mengajukan pertanyaan reflektif yang menohok: "Apakah saya benar-benar sedang mengajar, atau sebenarnya saya hanya sedang mendikte?" Perbedaannya sangat tipis namun dampaknya bagaikan bumi dan langit bagi perkembangan nalar siswa. Mendikte adalah proses satu arah di mana guru memindahkan isi kepalanya ke kepala siswa tanpa saringan, menuntut penyeragaman, dan membungkam pertanyaan. Sementara mengajar, dalam arti pedagogi kritis, adalah proses memantik api kesadaran, membuka ruang dialog, dan memfasilitasi siswa menemukan pengetahuannya sendiri. Refleksi ini penting agar guru tidak terjebak menjadi "robot kurikulum" yang kehilangan esensi pendidikan.
Ciri utama kelas yang didikte adalah keheningan yang mencekam atau suara guru yang dominan sepanjang jam pelajaran (monolog). Jika siswa hanya sibuk menyalin tulisan di papan tulis tanpa memahami maknanya, atau menjawab pertanyaan hanya dengan "iya, Pak" dan "tidak, Bu", maka lampu kuning tanda bahaya harus dinyalakan. Patriotisme yang diajarkan dengan cara mendikte hanya akan menghasilkan slogan-slogan kosong di mulut siswa tanpa meresap ke dalam hati. Siswa mungkin hafal lima sila Pancasila di luar kepala, tetapi gagal menerapkannya saat melihat teman yang berbeda agama dirundung, karena mereka tidak pernah diajak berpikir kritis tentang makna sila-sila tersebut.
Sebaliknya, proses mengajar yang sejati ditandai dengan riuhnya pertukaran gagasan dan antusiasme siswa untuk mengeksplorasi topik lebih dalam. Guru yang mengajar akan lebih banyak bertanya "mengapa" dan "bagaimana menurutmu", daripada sekadar memberi instruksi "hafalkan ini". Dalam konteks cinta tanah air, guru tidak mendiktekan "kamu harus cinta Indonesia karena itu kewajiban", tetapi mengajak siswa menemukan alasan-alasan rasional mengapa negeri ini layak dicintai dan diperjuangkan. Proses penemuan makna secara mandiri ini akan membuat nilai patriotisme tertanam kuat sebagai keyakinan pribadi, bukan hafalan paksaan.
Melakukan refleksi diri memang menyakitkan karena menuntut kejujuran mengakui kekurangan dan kesediaan untuk berubah (unlearning and relearning). Guru harus berani mengevaluasi metode mengajarnya, meminta umpan balik dari rekan sejawat, atau bahkan bertanya langsung kepada siswa: "Apakah cara Bapak mengajar membosankan?". Keberanian untuk refleksi ini adalah ciri dari guru profesional yang bertumbuh. Guru yang sadar bahwa dirinya masih sering mendikte akan berusaha memperbaiki diri dengan belajar metode-metode pembelajaran aktif yang lebih humanis dan partisipatif.
Transformasi dari mendikte menjadi mengajar adalah langkah awal untuk memerdekakan siswa dari belenggu kebodohan dan kepasifan. Kita tidak sedang mencetak mesin fotokopi yang menduplikasi pikiran guru, tetapi kita sedang mencetak manusia merdeka yang memiliki otentisitas pikiran. Dengan terus berefleksi, guru menjaga nyala api idealisme pendidikan agar tidak padam ditelan rutinitas. Mari pastikan setiap kata yang keluar di kelas adalah undangan untuk berpikir, bukan perintah untuk sekadar menurut.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita