Refleksi 10 Tahun Mendidik: Perubahan Karakter Siswa yang Paling Berkesan
Dunia pendidikan tidak pernah statis. Jika kita menengok ke belakang, tepatnya satu dekade lalu, lanskap ruang kelas Sekolah Dasar (SD) terasa sangat berbeda dengan apa yang kita hadapi hari ini. Bukan sekadar perubahan kurikulum dari KTSP ke Kurikulum Merdeka, namun ada pergeseran fundamental pada subjek utama pendidikan itu sendiri: Siswa.
Bagi para pendidik dan peneliti di bidang Pendidikan Dasar, memahami evolusi karakter ini bukan sekadar nostalgia, melainkan urgensi untuk merumuskan pendekatan pedagogis yang relevan. Berikut adalah refleksi mengenai perubahan karakter siswa yang paling berkesan selama 10 tahun terakhir.
1. Dari "Menerima" Menjadi "Mempertanyakan"
Salah satu perubahan paling mencolok adalah pergeseran pola interaksi siswa terhadap otoritas guru. Sepuluh tahun lalu, siswa cenderung menerima instruksi sebagai mandat mutlak.Hari ini, kita berhadapan dengan generasi yang lebih kritis.Dulu: Siswa bertanya "Apa jawabannya?"Sekarang: Siswa bertanya "Kenapa itu jawabannya?" atau "Kenapa kita harus mempelajari ini?"Catatan Akademis: Fenomena ini menandakan tumbuhnya critical inquiry sejak usia dini. Meskipun menantang bagi manajemen kelas, ini adalah modal besar bagi pengembangan HOTS (Higher Order Thinking Skills) jika difasilitasi dengan benar.
2. Disrupsi Atensi dan "Era Instan"
Kita tidak bisa mengabaikan "gajah di pelupuk mata": Teknologi. Siswa saat ini adalah digital natives murni yang lahir ketika layar sentuh sudah menjadi norma.Dampaknya pada karakter sangat terasa pada rentang atensi (attention span). Siswa satu dekade lalu mungkin mampu duduk tenang mendengarkan cerita selama 20 menit. Siswa hari ini membutuhkan stimulus visual, gamifikasi, dan perubahan aktivitas setiap 10-15 menit. Mereka terbiasa dengan kepuasan instan (instant gratification), yang membuat karakter "sabar" dan "tekun" menjadi tantangan tersendiri untuk diajarkan kembali.
3. Kesadaran Emosional vs. Ketahanan Mental
Ini adalah paradoks yang menarik. Di satu sisi, siswa hari ini jauh lebih ekspresif dan sadar akan perasaan mereka (emotionally aware). Mereka berani berkata, "Saya sedih," atau "Saya merasa tidak nyaman." Ini adalah kemajuan positif dari sisi kesehatan mental.Namun, di sisi lain, terlihat adanya penurunan dalam aspek resiliensi atau daya juang.Kegagalan kecil dalam tugas seringkali ditanggapi dengan frustrasi yang berlebihan.Kemampuan resolusi konflik secara mandiri antar teman sebaya tampak menurun dibandingkan siswa 10 tahun lalu yang lebih "tahan banting" dalam pergaulan sosial.
4. Hilangnya Batas Formal dan Informal
Gaya komunikasi siswa saat ini jauh lebih kasual. Batas hierarki antara guru dan siswa semakin kabur. Siswa memandang guru lebih sebagai partner belajar atau fasilitator daripada sosok otoritas yang berjarak.Hal ini membawa dampak positif berupa kedekatan emosional yang memperlancar proses transfer of knowledge. Namun, tantangannya adalah menanamkan kembali nilai-nilai sopan santun dan adab dasar yang mulai tergerus oleh budaya pop media sosial.
