Pola Asuh Makan (Feeding Rules) dan Pengaruhnya pada Berat Badan Anak
Keberhasilan pemenuhan gizi pada anak sekolah dasar tidak hanya ditentukan oleh jenis makanan yang disajikan, tetapi juga oleh pola asuh makan atau feeding rules yang diterapkan. Pola asuh makan yang terlalu memaksa (force feeding) atau sebaliknya, terlalu membebaskan (permissive feeding), seringkali menjadi pemicu masalah berat badan dan gangguan pertumbuhan pada anak. Di sekolah dasar, guru sering menemui siswa yang memiliki perilaku pilih-pilih makanan (picky eater) karena tidak adanya aturan makan yang konsisten di rumah. Anak yang terbiasa makan sambil menonton gawai atau berlari-larian cenderung tidak mengenal rasa kenyang dan lapar secara alami, yang berisiko menyebabkan obesitas atau malnutrisi. Oleh karena itu, pemahaman mengenai manajemen waktu dan suasana makan menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki oleh orang tua dan pendidik.
Penerapan aturan makan yang disiplin, seperti jadwal makan yang teratur dan pembatasan durasi makan, terbukti membantu anak dalam membangun hubungan yang sehat dengan makanan. Guru di sekolah dapat mendukung hal ini dengan menciptakan suasana makan siang bersama yang tenang, edukatif, dan tanpa distraksi perangkat elektronik. Siswa diajarkan untuk menghargai makanan yang ada di piring mereka serta memahami pentingnya setiap komponen gizi bagi kekuatan tubuh. Pola asuh makan yang responsif—di mana orang tua atau guru memperhatikan tanda lapar dan kenyang anak—akan mencegah terjadinya trauma makan yang sering dialami siswa SD. Konsistensi antara aturan di sekolah dan di rumah akan mempermudah anak dalam membentuk kebiasaan makan yang baik secara mandiri.
Menurut Dr. Meta Hanindita, Sp.A(K), "Pola asuh makan yang salah adalah salah satu pintu masuk utama terjadinya stunting dan obesitas, karena anak kehilangan kemampuan alami untuk meregulasi asupan energinya." Beliau menekankan bahwa edukasi gizi bagi orang tua harus mencakup cara berkomunikasi yang efektif saat jam makan agar tidak terjadi konflik yang membuat anak benci pada makanan sehat. Sering kali, masalah berat badan anak di sekolah dasar bukan disebabkan oleh kurangnya bahan pangan, melainkan karena perilaku makan yang tidak teratur dan penuh distraksi. Sekolah dapat berperan dalam memberikan modul panduan aturan makan praktis yang bisa diterapkan orang tua dengan mudah di rumah. Sinergi ini akan menciptakan kondisi kesehatan yang kuat bagi anak untuk menghadapi beban pelajaran yang semakin berat.
Tantangan bagi guru kelas adalah menghadapi keragaman pola asuh makan yang dibawa siswa dari latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Guru perlu melakukan pendekatan personal kepada siswa yang memiliki masalah makan dengan memberikan motivasi dan contoh nyata di dalam kelas. Diskusi mengenai nutrisi dalam pelajaran tematik bisa disisipkan dengan pesan-pesan tentang etika makan dan pentingnya disiplin saat makan. Selain itu, sekolah bisa mengadakan pertemuan rutin dengan orang tua untuk berbagi praktik baik mengenai cara mengatasi anak yang sulit makan dengan cara yang positif. Keberhasilan mengubah perilaku makan anak adalah langkah awal yang sangat krusial dalam memperbaiki status gizi mereka secara permanen. Pengawasan terhadap jajanan di sekolah juga harus selaras dengan prinsip-prinsip pola makan sehat yang diajarkan di kelas.