Pesan Cinta dari Langit: Bagaimana Mengajarkan Kasih Sayang Allah pada Anak
Mengajarkan konsep ketuhanan kepada anak usia dini sering kali terjebak pada narasi tentang hukuman dan neraka, padahal peristiwa Isra Mi’raj adalah manifestasi nyata dari "pesan cinta" Allah kepada hamba-Nya. Orang tua dan pendidik perlu mengubah paradigma dalam memperkenalkan Allah kepada anak, yakni dengan menonjolkan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim melalui kisah perjalanan Rasulullah yang penuh keajaiban. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang sedang bersedih, sebagaimana Rasulullah yang dihibur dengan perjalanan ke langit setelah tahun kesedihan. Anak-anak perlu memahami bahwa setiap aturan dalam agama, termasuk shalat, adalah bentuk kasih sayang Allah agar manusia hidup teratur dan bahagia. Jika anak merasa dicintai oleh Sang Pencipta, mereka akan menjalankan ibadah dengan rasa syukur, bukan karena rasa takut yang mencekam. Pendekatan afektif ini sangat krusial di masa sekolah dasar untuk membangun keterikatan emosional yang positif terhadap nilai-nilai ketauhidan.
Dalam proses pengajaran ini, sangat penting bagi orang tua untuk menggunakan bahasa yang membumi namun tetap mengandung nilai estetika spiritual yang tinggi. Ceritakanlah bagaimana Allah mempersiapkan Buraq sebagai kendaraan terbaik, menunjukkan bahwa Allah selalu memberikan fasilitas terbaik bagi mereka yang sabar dalam ketaatan. Anak harus diajak melihat bahwa keajaiban Isra Mi’raj adalah bukti bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan selalu dekat dengan urusan manusia. Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam berbagai kajiannya sering menekankan bahwa "Tujuan utama dari pendidikan agama adalah menanamkan rasa cinta (hubb) kepada Allah, karena cinta itulah yang akan melahirkan ketaatan yang tulus tanpa keterpaksaan." Kutipan ini menjadi landasan kuat bahwa narasi tentang kasih sayang harus lebih dominan dibandingkan narasi tentang ancaman dalam mendidik jiwa anak. Dengan demikian, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang optimis dan selalu merasa dalam perlindungan kasih sayang-Nya di setiap langkah hidup mereka.
Metode pengajaran kasih sayang Allah juga bisa dilakukan melalui pengamatan terhadap fenomena alam yang dikaitkan dengan kekuasaan-Nya yang tak terbatas. Saat menjelaskan tentang Sidratul Muntaha, ajaklah anak berimajinasi tentang betapa luasnya semesta ini dan betapa kecilnya manusia, namun tetap dipedulikan oleh Allah. Orang tua dapat memberikan analogi sederhana, seperti bagaimana seorang ibu merawat anaknya, sebagai gambaran kecil dari kasih sayang Allah yang jauh lebih besar dan luas. Penting bagi anak untuk merasa bahwa Allah adalah tempat kembali yang paling aman ketika mereka menghadapi masalah atau ketakutan di sekolah. Melalui diskusi yang hangat, jelaskan bahwa shalat adalah waktu khusus di mana Allah ingin mendengarkan semua cerita dan curhatan hamba-Nya yang kecil. Suasana belajar yang penuh cinta akan membuat materi agama yang berat terasa ringan dan menyenangkan bagi perkembangan kognitif siswa sekolah dasar.
Selain lisan, sikap orang tua dalam kehidupan sehari-hari harus mencerminkan kasih sayang yang mereka ajarkan tentang Allah tersebut. Anak adalah peniru yang ulung, sehingga mereka akan kesulitan memahami kasih sayang Allah jika tidak melihat contoh kasih sayang dari orang dewasa di sekitarnya. Jangan sampai kita mengajarkan Allah itu Maha Pengampun, namun kita sendiri sulit memaafkan kesalahan kecil yang dilakukan oleh anak di rumah. Konsistensi antara teori kasih sayang langit dan praktik kasih sayang di bumi akan membentuk karakter anak yang penuh empati dan santun kepada sesama. Berikan pujian dan pelukan sebagai bentuk apresiasi atas usaha mereka dalam beribadah, agar mereka mengasosiasikan ketaatan dengan kebahagiaan. Sinergi antara kata dan perbuatan ini akan menciptakan memori jangka panjang yang indah bagi anak tentang agamanya sendiri di masa depan.
Sebagai refleksi akhir, menjadikan Isra Mi’raj sebagai titik tolak pengajaran kasih sayang adalah investasi spiritual yang sangat berharga bagi masa depan anak. Kita ingin melahirkan generasi yang tidak hanya pintar secara intelektual, tetapi juga memiliki hati yang lembut karena merasa selalu diawasi oleh Tuhan yang Maha Pengasih. Keluarga dan sekolah harus bahu-membahu menciptakan narasi agama yang menyejukkan agar anak-anak tidak menjauh dari nilai-nilai ketuhanan di tengah gempuran ideologi sekuler. Biarkan mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa ada "Pesan Cinta dari Langit" yang selalu menyertai mereka dalam setiap tarikan napas dan denyut nadi. Dengan begitu, ketaqwaan yang muncul bukan lagi sekadar rutinitas lahiriah, melainkan kebutuhan ruhaniah yang lahir dari dasar hati yang paling dalam. Semoga setiap anak di negeri ini mendapatkan bimbingan yang tepat untuk mengenal Rabb-nya melalui jalur cinta yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.