Peran Strategis Pendidikan Dasar dalam Memutus Rantai Stunting Nasional
Pendidikan dasar memegang posisi kunci sebagai fase intervensi yang sangat strategis dalam upaya jangka panjang memutus rantai stunting di Indonesia. Stunting bukan hanya masalah fisik yang terlihat dari tinggi badan, tetapi juga berkaitan erat dengan perkembangan kognitif yang terhambat secara permanen. Di sekolah dasar, anak-anak berada pada periode emas pertumbuhan di mana stimulasi intelektual dan dukungan nutrisi harus berjalan secara beriringan. Intervensi yang dilakukan pada tahap ini dapat memitigasi dampak buruk kekurangan gizi yang dialami pada masa balita meskipun tidak sepenuhnya hilang. Melalui pendidikan, kita tidak hanya memperbaiki fisik anak, tetapi juga memberikan mereka literasi untuk memutus pola asuh salah di masa depan. Oleh karena itu, sektor pendidikan harus dianggap sebagai mitra sejajar dengan sektor kesehatan dalam penanganan stunting nasional.
Sekolah dasar berfungsi sebagai pusat sosialisasi sekunder yang efektif untuk mengubah norma-norma kesehatan yang mungkin keliru di lingkungan keluarga. Banyak kasus stunting terjadi bukan karena kemiskinan semata, melainkan karena kurangnya pemahaman tentang prioritas nutrisi bagi anak. Di sekolah, siswa diajarkan untuk menghargai tubuh mereka sendiri dan memahami kebutuhan biologis untuk tumbuh menjadi dewasa yang kuat. Pendidikan dasar memberikan kesempatan bagi negara untuk menjangkau jutaan anak dari berbagai latar belakang sosial ekonomi secara serentak. Program tambahan asupan gizi di sekolah atau pemberian tablet tambah darah bagi siswi yang mendekati masa puber adalah langkah konkret yang bisa diambil. Sekolah adalah ruang publik yang paling demokratis untuk mendistribusikan keadilan kesehatan bagi seluruh anak Indonesia tanpa terkecuali.
Menurut Dr. Brian Sriprahastuti, ahli kebijakan kesehatan, "Kegagalan dalam menangani stunting di level pendidikan dasar akan mengakibatkan beban ekonomi yang sangat besar bagi negara di masa depan." Beliau menjelaskan bahwa penurunan kualitas sumber daya manusia akibat malnutrisi akan mengurangi produktivitas nasional secara signifikan dalam beberapa dekade mendatang. Investasi pada nutrisi anak sekolah dasar adalah bentuk jaminan sosial yang paling efektif untuk memutus siklus kemiskinan antar generasi. Pendidikan harus mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga tangguh secara fisik untuk bersaing di level global. Jika kita kehilangan momentum di tingkat sekolah dasar, maka upaya perbaikan di tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan menjadi sangat berat. Kesadaran akan urgensi ini harus dimiliki oleh setiap pengambil kebijakan di bidang pendidikan dari pusat hingga daerah.
Sinergi lintas sektoral antara kementerian pendidikan, dinas kesehatan, dan pemerintah daerah harus diperkuat untuk menciptakan lingkungan sekolah yang bebas stunting. Sekolah harus memiliki akses ke data kesehatan siswa secara real-time untuk melakukan penyesuaian program dukungan gizi yang tepat sasaran. Pelibatan akademisi dari perguruan tinggi, khususnya jenjang S3 Pendidikan Dasar, sangat penting dalam melakukan riset-riset inovatif terkait model intervensi gizi. Hasil penelitian tersebut dapat dijadikan dasar dalam merumuskan kebijakan pendidikan yang lebih sensitif terhadap isu-isu kesehatan anak. Selain itu, dukungan anggaran yang memadai untuk program kesehatan sekolah harus diprioritaskan dalam APBN maupun APBD. Tanpa dukungan finansial dan regulasi yang kuat, peran strategis sekolah dasar hanya akan menjadi slogan tanpa aksi nyata yang berdampak.
Membangun kesadaran kolektif tentang bahaya stunting melalui jalur pendidikan dasar adalah tugas sejarah bagi generasi pendidik saat ini. Kita harus memastikan bahwa setiap anak yang masuk ke gerbang sekolah dasar keluar dengan kondisi fisik yang lebih baik dan pengetahuan kesehatan yang mumpuni. Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia, termasuk mengubah status kesehatan sebuah bangsa yang sedang berkembang. Keberhasilan kita dalam memutus rantai stunting akan menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang yang akan memimpin negeri ini. Mari kita jadikan sekolah dasar sebagai kawah candradimuka dimana tunas-tunas bangsa dirawat dengan ilmu dan nutrisi yang terbaik. Dengan komitmen yang bulat, Indonesia emas 2045 bukan sekadar impian, melainkan realitas yang dibangun di atas kesehatan anak-anak kita.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita