Peran Orang Tua dalam Menjelaskan Makna Isra Mi’raj di Rumah
Momentum Isra Mi’raj sering kali hanya dimaknai sebagai hari libur nasional tanpa adanya dialog mendalam antara orang tua dan anak di lingkungan domestik. Padahal, rumah merupakan madrasah pertama di mana konsep ketauhidan dan keajaiban kekuasaan Allah SWT diperkenalkan secara emosional kepada anak-anak usia sekolah dasar. Orang tua memiliki tanggung jawab moral untuk menerjemahkan peristiwa perjalanan malam Rasulullah SAW ke dalam bahasa yang mudah dicerna namun tetap menjaga esensi spiritualnya. Menjelaskan makna Isra Mi’raj bukan sekadar mendongengkan perjalanan fisik, melainkan menanamkan keyakinan bahwa batasan logika manusia tidak akan pernah mampu menandingi kehendak Sang Pencipta. Melalui diskusi hangat di meja makan atau sebelum tidur, orang tua dapat membangun fondasi keimanan yang kokoh agar anak tidak mudah goyah oleh arus informasi digital yang sering kali mempertanyakan hal-hal metafisika. Peran pendampingan ini menjadi krusial karena di bangku sekolah dasar, imajinasi anak sedang berkembang pesat dan membutuhkan arahan yang tepat mengenai konsep mukjizat.
Proses internalisasi nilai-nilai Isra Mi’raj di rumah harus dilakukan secara bertahap dan menggunakan pendekatan yang relevan dengan psikologi perkembangan anak. Orang tua dapat memulai dengan menceritakan kesedihan Rasulullah (Amul Huzni) sebelum peristiwa tersebut terjadi, guna mengajarkan konsep resiliensi atau ketangguhan mental kepada anak. Penting bagi anak untuk memahami bahwa di balik setiap kesulitan yang dihadapi manusia, Allah selalu menyediakan jalan keluar yang luar biasa bagi hamba-Nya yang bersabar. Dalam konteks ini, Dr. Ratna Sari, seorang pakar pengasuhan Islami, menegaskan bahwa "Keterlibatan aktif orang tua dalam menjelaskan peristiwa besar keagamaan akan menciptakan ikatan spiritual (spiritual bonding) yang lebih kuat dibandingkan pengajaran formal di kelas." Oleh karena itu, narasi yang dibangun di rumah harus mampu menyentuh sisi afektif anak sehingga mereka merasa bangga menjadi bagian dari umat Muhammad SAW. Dengan pendekatan yang komunikatif, peristiwa yang terjadi berabad-abad lalu ini tetap terasa relevan bagi kehidupan sehari-hari anak di era modern.
Salah satu poin utama dalam penjelasan Isra Mi’raj di rumah adalah mengenai perintah shalat lima waktu sebagai "oleh-oleh" utama dari perjalanan tersebut. Orang tua perlu menjelaskan bahwa shalat bukanlah sebuah beban, melainkan kebutuhan berkomunikasi langsung antara hamba dengan penciptanya yang penuh kasih sayang. Jika anak memahami bahwa shalat adalah bentuk komunikasi sakral, mereka akan menjalankannya dengan penuh kesadaran tanpa perlu terus-menerus diingatkan secara keras. Memberikan contoh nyata melalui perilaku orang tua yang konsisten menjaga shalat tepat waktu jauh lebih efektif daripada sekadar ceramah lisan yang panjang lebar. Kehadiran figur teladan di rumah akan memudahkan anak untuk mengadopsi nilai-nilai kedisiplinan dan ketakwaan yang menjadi inti dari hikmah perjalanan Mi’raj. Lingkungan rumah yang religius dan penuh dialog akan membentuk karakter anak yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual.
Pemanfaatan media pendukung seperti buku cerita bergambar atau video edukasi yang berkualitas dapat menjadi jembatan bagi orang tua untuk menghidupkan suasana belajar yang menyenangkan. Di era teknologi ini, orang tua dituntut untuk kreatif dalam menyajikan konten-konten Islami agar perhatian anak tidak sepenuhnya terserap oleh hiburan yang kurang bermanfaat. Mengajak anak berdiskusi setelah menonton atau membaca bersama akan melatih kemampuan berpikir kritis mereka terhadap nilai-nilai moral yang terkandung dalam peristiwa Isra Mi’raj. Melalui interaksi yang dua arah, orang tua dapat mendeteksi sejauh mana pemahaman anak dan meluruskan persepsi yang mungkin keliru mengenai konsep-konsep gaib. Keterbukaan orang tua dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis anak akan menumbuhkan rasa percaya diri anak untuk terus mengeksplorasi ilmu agama dengan bimbingan yang benar. Sinergi antara kasih sayang dan transfer pengetahuan di rumah inilah yang akan melahirkan generasi yang memiliki kecerdasan ruhani yang unggul.
Menjadikan Isra Mi’raj sebagai bahan refleksi keluarga tahunan akan mempererat hubungan emosional antaranggota keluarga sekaligus meningkatkan kualitas ibadah bersama. Keluarga yang sehat secara spiritual adalah keluarga yang menjadikan momen-momen besar agama sebagai sarana untuk memperbaiki diri secara kolektif. Setiap anggota keluarga harus menyadari bahwa perjalanan Rasulullah ke Sidratul Muntaha adalah simbol pencapaian derajat tertinggi manusia melalui jalur pengabdian dan penghambaan. Dengan menanamkan nilai ini sejak dini, orang tua sebenarnya sedang mempersiapkan pemimpin masa depan yang memiliki integritas moral yang tidak tergoyahkan oleh godaan zaman. Keberhasilan orang tua dalam mendidik anak tentang makna Isra Mi’raj akan terlihat pada bagaimana anak berperilaku jujur, disiplin dalam shalat, dan memiliki empati terhadap sesama. Mari jadikan setiap sudut rumah kita sebagai tempat yang penuh dengan keberkahan melalui penguatan nilai-nilai iman dan takwa yang bersumber dari keteladanan Rasulullah SAW.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita