Pentingnya Sanitasi bagi Kualitas Air Minum
Sanitasi yang buruk seringkali menjadi akar permasalahan utama dari kontaminasi sumber air minum yang digunakan oleh jutaan keluarga di berbagai wilayah Indonesia. Hubungan antara sistem pembuangan limbah domestik dan kualitas air tanah bersifat sangat erat, mengingat air tanah memiliki kemampuan menyerap polutan dari permukaan secara vertikal. Jika jarak antara tangki septik dan sumur air tidak memenuhi standar kesehatan yang ditetapkan, maka risiko rembesan bakteri E. coli ke dalam sumber air minum sangat besar. Banyak pemukiman padat di perkotaan yang masih menghadapi kendala ini, di mana keterbatasan lahan membuat sistem sanitasi yang sehat sulit untuk diimplementasikan secara ideal. Pendidikan mengenai sanitasi total berbasis masyarakat menjadi sangat penting untuk mencegah terjadinya siklus penularan penyakit menular melalui media air yang tercemar limbah manusia. Tanpa sanitasi yang memadai, upaya apapun untuk menjernihkan air akan menjadi sia-sia karena sumber airnya sendiri sudah terdegradasi secara biologis dan kimiawi.
Kualitas air minum yang aman bukan hanya tentang kejernihan warna, tetapi juga tentang ketiadaan mikroorganisme patogen dan bahan kimia berbahaya yang tidak terlihat mata. Investasi dalam sistem sanitasi yang tertutup dan terintegrasi adalah cara paling efektif untuk melindungi akuifer air tanah dari pencemaran domestik maupun industri. Masyarakat perlu diedukasi bahwa perilaku buang air besar sembarangan atau pembuangan limbah cair rumah tangga ke selokan terbuka berdampak langsung pada kualitas air yang mereka minum. Bakteri dan virus yang berasal dari limbah manusia dapat bertahan lama di dalam tanah dan bermigrasi menuju sumber-sumber air warga terutama saat musim penghujan tiba. Prof. Dr. Juli Soemirat, pakar kesehatan lingkungan, menyatakan bahwa "Sanitasi adalah martabat sebuah bangsa, dan tanpa sanitasi yang layak, ketersediaan air bersih hanyalah sebuah angan-angan yang sulit dicapai." Pernyataan ini menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur sanitasi harus berjalan beriringan dengan penyediaan akses air bersih guna menjamin kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
Dalam tataran akademik, mahasiswa S3 Pendidikan Dasar memiliki tanggung jawab untuk meneliti keterkaitan antara fasilitas sanitasi sekolah dengan tingkat kehadiran dan prestasi belajar siswa. Sekolah dasar yang memiliki sanitasi buruk cenderung menjadi pusat penyebaran penyakit yang menyebabkan siswa sering jatuh sakit dan kehilangan waktu belajar yang berharga. Penelitian dapat diarahkan pada bagaimana merancang modul pembelajaran sanitasi yang menyenangkan agar siswa memiliki kebiasaan mencuci tangan dan menjaga kebersihan toilet secara mandiri. Guru juga berperan penting sebagai teladan dalam mempraktikkan hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah agar siswa dapat meniru perilaku tersebut di rumah masing-masing. Integrasi nilai-nilai kebersihan dalam kurikulum pendidikan karakter akan membantu menciptakan generasi yang sadar akan pentingnya menjaga keasrian lingkungan air. Keterlibatan aktif orang tua dalam memantau sanitasi di lingkungan rumah juga perlu didorong melalui program kemitraan antara sekolah dan masyarakat sekitar.
Pemerintah dan sektor swasta perlu bersinergi dalam menyediakan teknologi sanitasi yang terjangkau namun memiliki standar efektivitas yang tinggi bagi daerah-daerah yang rawan krisis air bersih. Teknologi seperti tangki septik bio-filter atau sistem pengolahan limbah komunal dapat menjadi solusi bagi wilayah dengan kepadatan penduduk yang sangat tinggi dan lahan yang terbatas. Selain itu, pemeliharaan rutin terhadap infrastruktur sanitasi harus menjadi budaya di masyarakat agar fungsi perlindungan terhadap sumber air tetap optimal dalam jangka panjang. Kampanye nasional mengenai sanitasi harus diperkuat dengan data-data kesehatan yang menunjukkan penurunan angka stunting pada anak yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang baik. Air minum yang sehat adalah hak setiap anak, dan sanitasi yang layak adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh orang dewasa untuk mewujudkannya. Dengan memperbaiki sistem sanitasi, kita secara otomatis sedang mengamankan pasokan air bersih bagi masa depan bangsa yang lebih sehat dan kuat.
Sebagai penutup, sanitasi adalah pilar utama dalam menjaga keberlanjutan kualitas air minum yang menjadi kebutuhan vital bagi setiap makhluk hidup di bumi. Kita tidak boleh lagi mengabaikan sistem pembuangan limbah kita karena alam memiliki cara tersendiri untuk mengembalikan apa yang kita buang ke dalam sumber air kita. Mari kita mulai memperhatikan kondisi tangki septik kita dan berhenti membuang sampah atau limbah cair ke sungai demi menjaga kemurnian air yang kita konsumsi sehari-hari. Edukasi di tingkat pendidikan dasar harus terus digalakkan agar anak-anak memahami bahwa menjaga kebersihan diri dan lingkungan adalah kunci utama kesehatan mereka. Kerja sama antara seluruh pemangku kepentingan sangat diperlukan untuk mewujudkan target akses sanitasi layak bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali. Semoga dengan sanitasi yang lebih baik, kualitas hidup masyarakat meningkat dan krisis air bersih dapat kita hindari demi kebaikan generasi-generasi yang akan datang.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita