Pentingnya Kebersihan Hati dalam Menuntut Ilmu: Refleksi Isra Mi’raj
Pembersihan hati Nabi Muhammad SAW oleh malaikat Jibril dengan air zamzam sebelum memulai perjalanan Isra Mi’raj mengandung pesan pedagogis yang sangat mendalam bagi siapa saja yang sedang menuntut ilmu. Hati adalah wadah bagi ilmu pengetahuan; jika wadahnya kotor atau retak, maka ilmu yang masuk akan menjadi rusak atau bahkan tumpah tidak berbekas bagi kemaslahatan pemiliknya. Dalam dunia pendidikan dasar, sering kali kita terlalu fokus pada pengisian otak (kognitif) namun mengabaikan penataan hati (afektif) siswa, padahal keduanya harus berjalan beriringan. Kebersihan hati mencakup sikap jujur, rendah hati, jauh dari sifat sombong, dan niat yang tulus semata-mata karena mencari rida Allah dalam setiap proses belajar. Tanpa hati yang bersih, ilmu yang dimiliki seseorang justru bisa menjadi alat untuk merendahkan orang lain atau melakukan tindakan yang merugikan masyarakat luas. Refleksi Isra Mi’raj mengingatkan kita bahwa proses pensucian diri (tazkiyatun nafs) adalah prasyarat utama untuk mencapai puncak pemahaman ilmu yang hakiki dan berkah.
Seorang penuntut ilmu yang memiliki hati yang bersih akan lebih mudah menyerap materi pelajaran karena tidak ada hambatan ego atau prasangka buruk terhadap guru maupun teman-temannya. Guru memiliki tanggung jawab besar untuk tidak hanya mengajarkan rumus dan teori, tetapi juga membimbing siswa bagaimana cara menjaga hati agar tetap bercahaya dan terbuka terhadap kebenaran. Pembiasaan seperti berdoa dengan khusyuk sebelum belajar, menjaga wudhu, dan selalu berprasangka baik adalah langkah-langkah praktis untuk menjaga kejernihan batin siswa di sekolah. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menekankan bahwa "Cahaya ilmu tidak akan masuk ke dalam hati yang di dalamnya terdapat kegelapan maksiat dan kotoran sifat-sifat tercela." Kutipan klasik ini tetap relevan hingga saat ini sebagai peringatan bagi institusi pendidikan untuk selalu mengedepankan pendidikan moral dan spiritual di atas segalanya. Ilmu pengetahuan yang bersanding dengan kebersihan hati akan melahirkan kebijakan, sedangkan ilmu tanpa hati hanya akan melahirkan kelicikan.
Di sekolah, menanamkan pentingnya kebersihan hati bisa dilakukan melalui penguatan adab dalam berinteraksi sehari-hari antara guru dan murid serta antarsesama siswa. Guru harus mengajarkan bahwa merasa paling pintar atau meremehkan teman yang kurang beruntung dalam nilai akademik adalah kotoran hati yang harus segera dibersihkan. Program-program seperti "Jumat Bersih Hati" melalui kegiatan berbagi atau memaafkan kesalahan teman secara masal dapat menjadi aktivitas rutin yang sangat bermakna bagi perkembangan emosional anak. Melalui pendekatan ini, siswa belajar bahwa nilai raport yang tinggi tidak ada gunanya jika mereka memiliki hati yang kasar dan tidak memiliki empati terhadap penderitaan orang lain. Pendidikan yang mengutamakan kebersihan hati akan menciptakan lingkungan belajar yang suportif, aman, dan penuh dengan aura kedamaian. Guru pun harus terus menjaga hatinya agar tetap ikhlas dalam mendidik, karena pancaran keikhlasan guru akan lebih cepat sampai ke hati siswa dibandingkan sekadar kata-kata lisan.
Peran orang tua di rumah juga sangat menentukan dalam menjaga kontinuitas kebersihan hati anak dari pengaruh negatif lingkungan luar dan media sosial yang terkadang penuh dengan kebencian. Orang tua perlu menanamkan nilai kejujuran di atas prestasi, mengajarkan anak untuk merasa ikut senang atas keberhasilan orang lain, dan melatih mereka untuk mudah memaafkan. Hindari membanding-bandingkan anak dengan anak lain secara berlebihan karena hal tersebut dapat menumbuhkan benih penyakit hati seperti iri dan dengki dalam diri mereka. Diskusi mengenai peristiwa pembelahan dada Nabi bisa dijadikan pintu masuk untuk menjelaskan kepada anak bahwa kita perlu "membersihkan" diri setiap hari melalui istighfar dan perbuatan baik. Jika rumah menjadi tempat yang suci dari kata-kata kotor dan perilaku buruk, maka hati anak akan tumbuh dengan sehat dan kuat menghadapi godaan zaman. Hati yang bersih adalah modal utama bagi anak untuk menjadi pemimpin masa depan yang berintegritas dan dicintai oleh rakyatnya.
Sebagai kesimpulan, mari kita jadikan inspirasi dari proses pensucian hati Nabi Muhammad sebagai kompas dalam setiap langkah kita menuntut dan mengajarkan ilmu. Pendidikan dasar adalah masa paling krusial untuk menanamkan benih-benih kebersihan hati sebelum tumpukan ilmu pengetahuan yang lebih kompleks masuk ke dalam jiwa anak-anak kita. Mari kita ciptakan generasi yang tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki kehalusan budi pekerti yang mencerminkan kedalaman iman mereka. Ilmu adalah cahaya, dan cahaya hanya bisa menetap serta menerangi ruang yang bersih dari segala noda dan kotoran prasangka. Semoga setiap usaha kita dalam mendidik hati anak didik kita mendapatkan rida dari Allah SWT dan membuahkan hasil berupa generasi rabbani yang unggul. Dengan hati yang bersih, mari kita melangkah menuju "mikraj" prestasi yang lebih tinggi demi kemuliaan agama, bangsa, dan negara tercinta.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita