Pendidikan Multikultural yang Kritis: Lebih dari Sekadar Baju Adat
Sumber: Gemini AI
Pendidikan multikultural di sekolah dasar Indonesia sering kali terjebak pada pendekatan "wisatawan" atau seremonial semata. Kita merayakan keberagaman hanya sebatas festival makanan daerah, parade baju adat saat Hari Kartini, atau tarian tradisional saat perpisahan sekolah. Meskipun hal ini baik sebagai pengenalan awal, namun pendekatan ini dangkal dan gagal menyentuh esensi multikulturalisme, yaitu kemampuan hidup berdampingan dalam perbedaan. Pendidikan multikultural yang kritis mengajak siswa menyelami nilai, cara pandang, dan tantangan yang dihadapi oleh budaya lain, bukan hanya menikmati artefak budayanya. Kita harus bergerak dari "melihat" perbedaan menjadi "memahami" perbedaan.
Pendekatan kritis menuntut guru untuk berani mendiskusikan stereotip dan prasangka antar-etnis yang mungkin diam-diam hidup di masyarakat. Misalnya, guru bisa mengajak siswa membedah mitos-mitos tentang sifat suku tertentu yang sering dijadikan bahan olok-olokan. Dengan membedah prasangka tersebut secara terbuka dan rasional, siswa belajar bahwa menilai seseorang berdasarkan kelompok etnisnya (generalisasi) adalah tindakan yang tidak adil dan tidak cerdas. Literasi budaya ini penting agar siswa memiliki kompetensi antarbudaya (intercultural competence) yang matang, bukan sekadar toleransi di permukaan.
Selain itu, pendidikan multikultural kritis mengajarkan bahwa setiap budaya memiliki kearifan lokal yang bisa menjadi solusi bagi masalah bersama. Guru bisa mengajak siswa membandingkan cara berbagai suku di Indonesia dalam menjaga alam atau menghormati orang tua. Tujuannya adalah mencari titik temu (common ground) nilai-nilai universal yang mempersatukan kita sebagai bangsa. Siswa belajar menghargai budaya lain bukan karena "eksotis" atau "unik", tetapi karena budaya tersebut memiliki nilai kebaikan yang bisa dipelajari dan diteladani.
Kurikulum juga harus mencerminkan keragaman narasi sejarah, tidak hanya didominasi oleh tokoh dari satu pulau atau satu golongan saja. Guru perlu memperkenalkan pahlawan-pahlawan lokal dari berbagai daerah dan latar belakang yang mungkin jarang disebut di buku teks utama. Hal ini memberikan rasa keterwakilan (representation) bagi seluruh siswa dan menunjukkan bahwa kontribusi terhadap Indonesia datang dari segala penjuru. Multikulturalisme menjadi landasan rasa kepemilikan bersama terhadap sejarah bangsa.
Pendidikan multikultural yang kritis mempersiapkan siswa untuk hidup di masyarakat majemuk yang sesungguhnya, yang penuh dinamika dan gesekan. Dengan pemahaman yang mendalam, siswa tidak akan kaget atau reaktif saat berhadapan dengan perbedaan nilai. Mereka akan mampu berdialog, bernegosiasi, dan bekerjasama dengan siapapun tanpa kehilangan jati dirinya. Baju adat boleh berbeda-beda warna, tapi isinya adalah manusia Indonesia yang saling mengerti dan menghormati. Inilah tujuan akhir dari pendidikan keberagaman yang sejati.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita