Patriotisme Inklusif: Merangkul Keberagaman di Sekolah Dasar
Sumber: Gemini AI
Patriotisme sering kali disalahartikan sebagai upaya penyeragaman, di mana menjadi "Indonesia" berarti harus berpikir, bertindak, dan berpenampilan sama sesuai standar mayoritas. Namun, dalam kacamata pedagogi kritis, patriotisme sejati justru harus bersifat inklusif, yaitu merangkul segala bentuk perbedaan sebagai kekuatan utama bangsa ini. Sekolah dasar adalah laboratorium sosial pertama tempat anak-anak belajar berinteraksi dengan orang yang berbeda latar belakang suku, agama, fisik, dan kemampuan ekonominya. Jika di tahap ini guru mampu menanamkan bahwa perbedaan adalah rahmat dan bukan ancaman, maka kita sedang meletakkan fondasi perdamaian yang kokoh. Patriotisme inklusif mengajarkan siswa untuk mencintai Indonesia beserta seluruh keragamannya, bukan mencintai Indonesia yang hanya berisi orang-orang yang "mirip" dengan mereka.
Tantangan dalam menerapkan patriotisme inklusif adalah melawan bias bawah sadar yang mungkin dibawa siswa dari lingkungan rumah atau pergaulan mereka. Guru harus proaktif menciptakan suasana kelas yang merayakan perbedaan, bukan sekadar menoleransinya dalam diam atau slogan belaka. Misalnya, saat membahas hari raya keagamaan, guru memberikan kesempatan yang adil bagi setiap siswa untuk menceritakan tradisi keluarganya, sehingga siswa lain belajar mendengar dan menghormati. Inklusivitas juga berarti memastikan siswa berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas mendapatkan tempat yang setara dalam pergaulan dan pembelajaran, tidak dipisahkan atau dikasihani. Mereka diajarkan bahwa setiap warga negara, apapun kondisinya, memiliki hak yang sama untuk dihormati dan berkontribusi.
Penerapan patriotisme inklusif juga menuntut guru untuk peka terhadap penggunaan bahasa dan materi ajar yang mungkin meminggirkan kelompok tertentu. Guru harus berani mengkritisi dan meluruskan jika ada candaan rasis atau stereotip yang muncul dalam percakapan siswa sehari-hari. "Di kelas ini, kita tidak menertawakan logat teman, karena itu adalah kekayaan bahasa Indonesia," adalah contoh intervensi guru yang mendidik. Sikap tegas namun edukatif ini mengirimkan pesan kuat bahwa sekolah adalah zona aman bagi semua identitas. Patriotisme dibangun di atas rasa aman dan rasa diterima, bukan di atas rasa takut menjadi berbeda.
Selain itu, kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) berupa pengaturan tempat duduk atau pembagian kelompok belajar harus dirancang untuk membaurkan siswa secara acak. Jangan biarkan siswa hanya berkelompok dengan teman yang satu suku atau satu agama saja, karena hal itu akan menebalkan tembok eksklusivitas. Interaksi intensif antar-kelompok dalam mengerjakan tugas kolaboratif akan mengikis prasangka dan menumbuhkan persahabatan lintas identitas yang tulus. Siswa belajar bahwa kerjasama yang baik tidak ditentukan oleh latar belakang identitas, melainkan oleh komitmen dan tanggung jawab bersama. Inilah miniatur persatuan Indonesia yang kita impikan.
Pada akhirnya, patriotisme inklusif bertujuan mencetak generasi yang merasa nyaman dengan dirinya sendiri sekaligus nyaman dengan keberagaman orang lain. Kita ingin anak-anak Indonesia bisa berkata dengan bangga, "Saya berbeda dengan kamu, tapi kita sama-sama pemilik sah republik ini." Persatuan yang dibangun di atas kesadaran inklusif akan jauh lebih liat dan tahan banting menghadapi upaya pemecahbelahan bangsa. Mari kita jadikan sekolah dasar sebagai taman sari di mana bermacam-macam bunga tumbuh mekar bersama tanpa saling menghalangi matahari.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita