Model Pembelajaran "Peer Tutoring" untuk Kampanye Hidup Sehat di SD
Model pembelajaran peer tutoring atau tutor sebaya merupakan strategi komunikasi persuasif yang sangat efektif untuk menyebarluaskan pesan hidup sehat di kalangan siswa sekolah dasar. Dalam model ini, siswa yang memiliki pemahaman gizi lebih baik atau terpilih sebagai "Dokter Kecil" bertugas untuk memberikan edukasi kepada teman-teman sekelasnya. Secara psikologis, anak-anak usia dasar cenderung lebih mudah menerima nasihat dan meniru perilaku yang dicontohkan oleh teman sebaya dibandingkan perintah dari figur otoritas dewasa. Pesan mengenai pentingnya mencuci tangan sebelum makan atau menghindari jajanan berbahaya terasa lebih relevan dan tidak kaku ketika disampaikan dalam bahasa anak-anak. Peer tutoring menciptakan atmosfer belajar yang egaliter dan partisipatif, di mana nilai-nilai kesehatan tumbuh dari dalam komunitas siswa itu sendiri.
Pelaksanaan kampanye gizi melalui tutor sebaya juga melatih keterampilan kepemimpinan, empati, dan komunikasi publik bagi siswa yang berperan sebagai tutor. Mereka belajar untuk menyederhanakan konsep kesehatan yang kompleks menjadi pesan-pesan singkat yang menarik bagi teman-temannya di jam istirahat. Guru berperan sebagai fasilitator dan mentor yang memberikan supervisi serta bahan ajar yang akurat bagi para tutor cilik ini agar informasi yang disampaikan tetap tervalidasi secara medis. Model ini juga membantu guru dalam menjangkau siswa yang mungkin merasa malu atau takut untuk bercerita mengenai masalah kesehatannya kepada orang dewasa. Dengan adanya tutor sebaya, pengawasan terhadap perilaku makan sehat di sekolah dapat dilakukan secara lebih intensif dan menyeluruh setiap harinya.
Menurut Dr. Seto Mulyadi, "Pemberdayaan anak sebagai agen perubahan bagi sesamanya adalah bentuk pendidikan karakter yang paling otentik dan berdampak luas dalam sistem sekolah dasar." Beliau berargumen bahwa anak memiliki kekuatan persuasi yang unik karena mereka berbagi dunia sosial dan emosional yang sama dengan rekan-rekannya. Melalui kampanye hidup sehat yang digerakkan oleh siswa, sekolah sedang membangun budaya sadar gizi yang lebih organik dan berkelanjutan dalam jangka panjang. Tutor sebaya tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membangun norma sosial baru di kelas bahwa "makan sehat itu keren" dan "berprestasi dimulai dari gizi". Sinergi antara bimbingan guru dan semangat siswa akan menjadi modal sosial yang kuat bagi sekolah dalam memerangi stunting.
Strategi peer tutoring ini dapat diperluas melalui pembentukan kelompok-kelompok kecil di kelas yang memiliki misi khusus, seperti "Duta Sayur" atau "Pasukan Anti-Sampah Makanan". Setiap kelompok bertanggung jawab untuk saling mengingatkan anggota lainnya tentang pentingnya menghabiskan bekal gizi seimbang yang dibawa dari rumah. Aktivitas ini dapat dibarengi dengan sistem poin atau penghargaan sederhana bagi kelompok yang paling konsisten menerapkan pola hidup sehat selama satu semester. Keterlibatan aktif siswa dalam kampanye kesehatan ini akan mengurangi beban kerja guru sekaligus meningkatkan efektivitas penyampaian pesan gizi di lingkungan sekolah. Pengalaman menjadi tutor kesehatan akan membekas kuat dalam jati diri siswa dan membentuk kepribadian yang peduli pada kesejahteraan masyarakat di masa dewasa.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita