
Sumber: Kompas Edukasi
Indonesia adalah laboratorium keberagaman yang nyata. Di ruang-ruang kelas sekolah dasar, kita sering melihat miniatur Indonesia: berbeda suku, agama, dan latar belakang budaya duduk berdampingan. Tantangannya adalah bagaimana mengubah perbedaan ini menjadi kekuatan, bukan pemicu konflik.
Guru pendidikan dasar memegang kunci untuk menciptakan lingkungan inklusif. Pembelajaran toleransi tidak bisa hanya melalui buku teks PPKn. Ia harus dipraktikkan melalui interaksi sosial sehari-hari. Artikel ini mengulas strategi guru dalam membentuk kelompok belajar yang sengaja diacak latar belakangnya, memaksa siswa untuk berkolaborasi dengan teman yang "berbeda" dengan mereka.
Selain itu, guru berperan aktif dalam memoderasi diskusi kelas. Ketika ada pertanyaan lugu atau stereotip yang muncul dari siswa tentang budaya lain, guru tidak mematikannya, melainkan menggunakannya sebagai momen pembelajaran (teachable moment).
Mengajarkan siswa untuk mengucapkan selamat hari raya kepada teman yang berbeda agama, atau sekadar menghargai dialek bahasa teman yang berbeda suku, adalah langkah konkret. Tujuannya adalah mencetak generasi yang tidak hanya "tahu" tentang toleransi, tetapi memiliki "kompetensi antarbudaya" yang mumpuni untuk masa depan Indonesia yang harmonis.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita