Menumbuhkan Rasa Takjub pada Kebesaran Allah Sejak Usia Dini
Menumbuhkan rasa takjub (sense of wonder) terhadap kekuasaan Tuhan merupakan langkah awal yang paling krusial dalam pendidikan karakter religius bagi anak usia sekolah dasar. Pada fase ini, anak-anak memiliki imajinasi yang sangat luas, sehingga narasi Isra Mi’raj dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan konsep kemahakuasaan Allah secara konkret namun puitis. Rasa takjub ini bukan sekadar perasaan emosional sesaat, melainkan sebuah fondasi kognitif yang akan membantu anak memahami posisi dirinya sebagai hamba di tengah semesta yang luas. Guru di sekolah dasar berperan sebagai fasilitator yang menghubungkan fenomena alam semesta dengan keajaiban perjalanan Rasulullah melintasi dimensi langit. Ketika anak mulai merasa kagum pada penciptaan bintang, galaksi, dan rahasia langit, mereka akan lebih mudah menerima konsep keimanan tanpa merasa terpaksa. Pendidikan yang mengedepankan rasa takjub akan melahirkan generasi yang rendah hati karena mereka sadar betapa kecilnya manusia di hadapan Sang Pencipta.
Pengenalan sifat-sifat Allah melalui peristiwa Isra Mi’raj harus dilakukan dengan metode yang menggugah nalar dan rasa secara bersamaan agar hasilnya lebih membekas di sanubari. Pendidik dapat menggunakan ilustrasi visual tentang perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa untuk menunjukkan bahwa Allah berkuasa atas segala hukum fisika yang ada di dunia. Anak-anak diajak untuk merenungkan bahwa jika manusia bisa menciptakan teknologi canggih, maka Allah sebagai pencipta manusia tentu memiliki kekuatan yang jauh melampaui logika makhluk-Nya. Dengan menanamkan rasa takjub ini, guru sebenarnya sedang membangun benteng pertahanan mental bagi anak dari paham-paham materialisme yang mengabaikan aspek ketuhanan. Setiap materi pelajaran agama di kelas harus diarahkan untuk menjawab rasa penasaran anak tentang keagungan Allah yang Maha Besar. Keberhasilan pendidikan dasar dalam aspek ini akan terlihat dari cara anak menghargai setiap ciptaan Tuhan di sekelilingnya, mulai dari tanaman hingga sesama teman.
Dr. Hamdan Wahyudi, seorang pakar pedagogi spiritual, menegaskan bahwa "Rasa takjub adalah bahan bakar utama bagi kecerdasan eksistensial anak yang akan menuntun mereka pada pencarian kebenaran sejati di masa dewasa." Beliau berpendapat bahwa tanpa rasa takjub, pendidikan agama hanya akan menjadi tumpukan teks kering yang tidak memiliki daya transformasi terhadap perilaku siswa sehari-hari. Oleh karena itu, kurikulum di tingkat S3 Pendidikan Dasar harus mampu merumuskan strategi pengajaran yang memadukan antara sains dan spiritualitas dalam membedah mukjizat. Guru disarankan untuk sering mengajak siswa mengamati fenomena langit sebagai bentuk tadabur alam yang terintegrasi dengan kisah Mi’raj Rasulullah. Melalui kekaguman terhadap kebesaran Allah, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang optimis karena mereka yakin bahwa Tuhan mereka Maha Kuasa atas segala masalah. Iman yang didasari oleh ketakjuban akan jauh lebih kokoh dibandingkan iman yang hanya didasari oleh rasa takut akan hukuman.
Lebih jauh lagi, rasa takjub ini akan membentuk karakter anak yang penuh rasa syukur dan jauh dari sifat sombong atau angkuh terhadap prestasi yang mereka raih. Dalam setiap kegiatan pembelajaran di sekolah, guru perlu menyisipkan pesan bahwa setiap kecerdasan dan kemampuan yang dimiliki siswa adalah titipan dari Allah yang Maha Luas ilmunya. Peristiwa Isra Mi’raj mengajarkan kita bahwa kedudukan tertinggi manusia (Sidratul Muntaha) justru dicapai melalui penghambaan yang total dan pengakuan akan kelemahan diri. Siswa yang memiliki rasa takjub akan lebih mudah diajak untuk beribadah karena mereka merasa butuh dan rindu untuk berkomunikasi dengan Sang Maha Agung. Pembiasaan doa sebelum dan sesudah belajar juga menjadi sarana untuk merawat rasa takjub tersebut agar tetap menyala dalam aktivitas harian. Dengan demikian, sekolah bukan hanya tempat untuk mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat untuk menyemai benih-benih cinta kepada Allah melalui rasa kagum yang mendalam.
Sebagai kesimpulan, menumbuhkan rasa takjub pada kebesaran Allah sejak usia dini adalah investasi peradaban yang akan melahirkan individu berintegritas dan bertaqwa. Isra Mi’raj adalah narasi terbaik yang disediakan sejarah untuk memastikan bahwa anak-anak kita tidak kehilangan pegangan spiritual di tengah kemajuan teknologi yang pesat. Tugas kita sebagai pendidik adalah memastikan bahwa setiap anak didik mampu menatap langit dengan penuh kekaguman dan menatap masa depan dengan penuh keyakinan. Mari kita jadikan lingkungan sekolah sebagai laboratorium iman di mana rasa takjub dipelihara dan dikembangkan melalui metode pengajaran yang inovatif. Harapannya, generasi yang kita didik saat ini akan menjadi pemimpin masa depan yang tetap sujud kepada Tuhan meski telah mencapai puncak kesuksesan duniawi. Semoga Allah senantiasa memberkati setiap langkah kita dalam membimbing jiwa-jiwa muda ini menuju cinta-Nya yang abadi.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita