Menjadi Teman Dialog: Cara Guru Menumbuhkan Nasionalisme Organik
Sumber: Gemini AI
Nasionalisme organik adalah rasa cinta tanah air yang tumbuh secara alami dari dalam diri, bukan hasil cangkokan paksa atau indoktrinasi yang bersifat artifisial. Untuk menumbuhkan jenis nasionalisme yang tulus ini pada siswa SD, posisi guru harus bergeser dari penceramah di mimbar menjadi teman dialog yang setara. Konsep "teman dialog" meniadakan jarak feodal yang menghambat keterbukaan, memungkinkan siswa untuk berbicara jujur tentang perasaan dan pandangan mereka mengenai Indonesia. Dalam percakapan yang santai namun bermakna ini, benih-benih cinta tanah air disemaikan ke dalam hati siswa melalui pendekatan personal dan emosional yang menyentuh.
Sebagai teman dialog, guru bersedia mendengarkan celoteh siswa tentang apa saja, mulai dari kekaguman mereka pada atlet bulu tangkis hingga kekecewaan mereka melihat berita korupsi di televisi. Guru tidak buru-buru menghakimi atau menceramahi, tetapi merespons dengan empati dan pertanyaan pemantik: "Wah, kenapa kamu kecewa? Apa yang seharusnya dilakukan pemimpin yang baik?". Percakapan informal ini justru sering kali lebih efektif menanamkan nilai moral daripada jam pelajaran PKn yang formal. Siswa merasa didengar dan divalidasi perasaannya, sehingga mereka mengasosiasikan pembicaraan tentang negara dengan rasa nyaman dan keterbukaan, bukan rasa takut salah.
Dialog-dialog kecil ini juga bisa dimanfaatkan guru untuk meluruskan miskonsepsi atau prasangka yang mungkin dimiliki siswa terhadap kelompok lain. Dengan bahasa teman, guru bisa berkata, "Tapi coba kita bayangkan kalau kita di posisi mereka, enak tidak ya digituin?". Pendekatan persuasif ini mengajak siswa melakukan refleksi diri tanpa merasa digurui. Nasionalisme organik tumbuh dari kesadaran bahwa kita semua adalah saudara sebangsa yang harus saling menjaga perasaan. Guru menjadi jembatan yang menghubungkan hati siswa dengan hati saudara-saudaranya di seluruh nusantara.
Menjadi teman dialog juga berarti guru harus update dengan dunia anak-anak masa kini, mengerti bahasa mereka, dan memahami tren yang sedang mereka gandrungi. Guru bisa masuk lewat pintu kesukaan mereka—misalnya game atau youtuber—untuk kemudian diarahkan pada nilai-nilai kebangsaan. "Keren ya tim esports Indonesia bisa menang juara dunia, itu juga bentuk bela negara lho di era digital!" kata guru. Koneksi yang relevan ini membuat nasionalisme terasa kekinian dan keren di mata anak-anak. Mereka tidak lagi melihat patriotisme sebagai barang antik museum, tetapi sebagai gaya hidup modern.
Membangun hubungan sebagai teman dialog membutuhkan ketulusan dan investasi waktu di luar jam mengajar formal, seperti saat istirahat atau kegiatan ekstrakurikuler. Namun, hasil yang didapat sepadan dengan usaha tersebut: siswa yang mencintai gurunya, dan melalui gurunya, mereka belajar mencintai negerinya. Hubungan yang hangat dan manusiawi adalah tanah yang paling subur bagi tumbuhnya karakter. Mari menjadi teman bicara yang asyik bagi siswa kita, agar cinta tanah air mengalir deras dalam setiap obrolan di sudut-sudut sekolah.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita