Menggali Kearifan Lokal sebagai Akar Patriotisme Modern
Sumber: Gemini AI
Di tengah arus globalisasi yang menyeragamkan budaya dunia, ada kekhawatiran bahwa generasi muda akan kehilangan akar identitas keindonesiaannya. Patriotisme modern tidak boleh tercerabut dari akar budaya lokal; justru kearifan lokal (local wisdom) harus menjadi jangkar yang memperkuat rasa cinta tanah air. Menggali kearifan lokal di sekolah dasar bukan sekadar memakai baju adat setahun sekali, tetapi memahami nilai-nilai filosofis luhur yang diwariskan nenek moyang dan relevansinya untuk masa kini. Nilai-nilai seperti gotong royong, pela gandong, atau subak, menyimpan ajaran tentang harmoni alam dan sosial yang sangat dibutuhkan dunia modern.
Guru dapat mengajak siswa mengeksplorasi kearifan lokal di daerah masing-masing dan mendiskusikan bagaimana nilai itu bisa diterapkan untuk memecahkan masalah modern. Misalnya, tradisi sasi di Maluku dan Papua yang melarang pengambilan hasil alam pada masa tertentu, bisa dikontekstualisasikan sebagai upaya konservasi lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Siswa diajak berpikir kritis: "Ternyata nenek moyang kita sudah punya cara menjaga alam yang hebat, mengapa kita sekarang justru merusaknya?". Kebanggaan terhadap warisan intelektual leluhur ini akan menumbuhkan kepercayaan diri (self-esteem) sebagai bangsa yang beradab, bukan bangsa pengikut.
Pembelajaran kearifan lokal juga menjadi sarana efektif untuk menanamkan toleransi dan menghargai keberagaman budaya nusantara. Ketika siswa mempelajari filosofi hidup suku lain yang ternyata memiliki kemiripan nilai kebajikan (universal values), sekat-sekat prasangka akan runtuh. Mereka menyadari bahwa meskipun ekspresi budayanya berbeda-beda, namun hati dan tujuan hidup manusia Indonesia pada dasarnya sama: mencari keselamatan dan keharmonisan. Pemahaman ini memperkuat tenun kebangsaan yang sering kali dicoba dirobek oleh isu-isu intoleransi. Patriotisme menjadi inklusif, merangkul semua warna budaya sebagai kekayaan, bukan ancaman.
Selain itu, menggali kearifan lokal juga bisa dilakukan melalui pengenalan permainan tradisional yang sarat makna kerjasama dan strategi. Berbeda dengan game online yang cenderung individualistik, permainan seperti gobak sodor atau bentengan menuntut kerjasama tim, kejujuran, dan ketangkasan fisik. Melalui permainan, nilai-nilai karakter masuk ke dalam jiwa anak dengan cara yang menyenangkan dan tanpa paksaan. Guru bisa membedah makna filosofis di balik permainan tersebut setelah siswa lelah bermain, sehingga pembelajaran menjadi reflektif. Ini adalah cara melestarikan budaya sekaligus membangun karakter.
Patriotisme modern yang berakar kuat pada kearifan lokal akan melahirkan generasi yang berwawasan global namun berkepribadian lokal (glocal: global mindset, local heart). Mereka mampu bergaul di panggung internasional tanpa kehilangan jati dirinya sebagai orang Indonesia yang santun dan berbudaya. Kearifan lokal adalah kompas moral yang akan menuntun bangsa ini agar tidak tersesat di tengah perubahan zaman yang serba cepat. Mari kita ajak siswa kembali menengok ke dalam, menggali harta karun budaya sendiri, dan menjadikannya bekal untuk melangkah maju dengan kepala tegak.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita