Mengelola Stres Belajar dengan Pendekatan Ibadah yang Berkualitas
untutan kurikulum yang padat dan persaingan akademik yang semakin ketat sering kali membuat siswa sekolah dasar mengalami tekanan psikologis atau stres belajar di usia yang masih sangat muda. Sebagai pendidik dan orang tua, kita perlu mencari solusi alternatif yang berakar pada nilai-nilai spiritual, sebagaimana hikmah dari perjalanan Isra Mi’raj yang mengajarkan keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Mengelola stres dengan pendekatan ibadah berarti menjadikan aktivitas keagamaan sebagai sarana relaksasi dan pengisian ulang energi mental yang telah terkuras selama proses belajar di sekolah. Ibadah yang dilakukan secara berkualitas, bukan sekadar menggugurkan kewajiban, terbukti secara ilmiah mampu memberikan rasa tenang dan meningkatkan fungsi kognitif otak manusia. Dengan mengajarkan anak untuk "curhat" kepada Allah melalui doa dan shalat, kita sebenarnya sedang membekali mereka dengan mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) yang sangat tangguh. Ibadah menjadi oase spiritual di tengah padang pasir rutinitas belajar yang terkadang terasa sangat melelahkan bagi jiwa-jiwa kecil mereka.
Pendekatan ibadah untuk mengelola stres dapat dimulai dengan mengubah cara pandang siswa terhadap shalat dari sebuah beban menjadi sebuah momen istirahat yang eksklusif. Guru dapat memperkenalkan teknik pernapasan yang dipadukan dengan dzikir ringan sebagai cara untuk menenangkan pikiran sebelum memulai ujian atau saat merasa jenuh dengan tugas-tugas yang menumpuk. Shalat dhuha di sekolah, misalnya, bisa dikonsep sebagai waktu "jeda kreatif" di mana siswa diajak untuk melepaskan segala ketegangan pikiran dan memohon kemudahan kepada Sang Maha Pemberi Ilmu. Dr. Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya tentang psikologi agama sering menegaskan bahwa "Penyerahan diri secara total kepada kekuasaan Tuhan (tawakkal) adalah obat paling mujarab bagi segala bentuk kecemasan yang melanda jiwa manusia." Kutipan ini menekankan bahwa ketika seorang siswa merasa sudah berusaha maksimal lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah, maka beban stresnya akan berkurang secara signifikan. Pendidikan yang menyatukan usaha lahiriah dengan kepasrahan batiniah akan melahirkan siswa yang lebih tenang dan percaya diri.
Selain shalat, membaca dan mendengarkan murottal Al-Qur'an di sela-sela waktu belajar juga terbukti mampu menurunkan tingkat kecemasan dan meningkatkan konsentrasi siswa. Sekolah dapat memutar lantunan ayat suci secara lembut saat jam istirahat atau sebelum jam pelajaran dimulai untuk menciptakan atmosfer lingkungan yang menenangkan indra pendengaran. Guru juga perlu memberikan pemahaman bahwa belajar itu sendiri adalah bagian dari ibadah, sehingga setiap kesulitan yang dihadapi dalam memahami materi pelajaran akan bernilai pahala jika dijalani dengan sabar. Dengan mengubah niat belajar menjadi ibadah, rasa lelah yang muncul akan berubah menjadi rasa syukur dan semangat untuk terus berjuang meraih rida Allah. Hal ini akan mengurangi tendensi siswa untuk melakukan cara-cara tidak jujur demi mendapatkan nilai, karena mereka sadar bahwa proses lebih dihargai oleh Tuhan daripada sekadar hasil akhir. Pendidikan yang religius namun santai akan membuat siswa merasa lebih bahagia dan mencintai proses mencari ilmu pengetahuan sebagai bagian dari perjalanan hidup mereka.
Peran orang tua sangat penting dalam menciptakan rumah sebagai zona bebas stres dengan mendukung aktivitas ibadah anak tanpa tekanan yang berlebihan atau bersifat otoriter. Alih-alih hanya menanyakan nilai ulangan, orang tua bisa memulai percakapan dengan menanyakan bagaimana kualitas shalat anak hari ini atau apa yang mereka doakan kepada Allah. Memberikan waktu bagi anak untuk beristirahat dan bermain secara seimbang juga merupakan bentuk pengamalan nilai Islam yang menjunjung tinggi moderasi dalam segala hal. Rumah harus menjadi tempat di mana anak bisa mengadukan segala kekhawatirannya tanpa takut dihakimi, dan orang tua membimbing mereka untuk menyelesaikannya melalui jalur ikhtiar dan doa. Jika anak terbiasa menghadapi stres belajar dengan pendekatan spiritual yang benar, mereka akan tumbuh menjadi orang dewasa yang memiliki ketahanan mental yang luar biasa di masa depan. Kerja sama yang baik antara sekolah dan rumah dalam urusan spiritual ini akan menciptakan ekosistem pendidikan yang menyehatkan bagi pertumbuhan fisik dan mental anak.
Mari kita jadikan momentum Isra Mi’raj sebagai pengingat bahwa Allah memberikan fasilitas ibadah sebagai solusi atas setiap kesulitan hidup manusia, termasuk stres dalam belajar. Tidak ada masalah yang terlalu besar jika kita menyandarkannya pada Sang Maha Besar melalui shalat dan doa-doa kita yang tulus. Mari kita ajarkan anak-anak kita untuk menjadi "pembelajar tangguh" yang tahu kapan harus bekerja keras dan kapan harus bersujud memohon kekuatan. Pendidikan yang sukses adalah yang mampu mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas otaknya, tetapi juga tenang jiwanya dan kuat imannya dalam segala situasi. Semoga setiap rakaat shalat dan setiap huruf Al-Qur'an yang dibaca oleh anak-anak kita menjadi penghalau stres dan pembuka pintu keberhasilan bagi masa depan mereka. Dengan ibadah yang berkualitas, mari kita jemput masa depan yang lebih cerah, penuh kedamaian, dan selalu dalam lindungan kasih sayang Sang Pencipta semesta alam.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita