Mengapa Kisah Isra Mi’raj Tetap Relevan Bagi Pendidikan Dasar Abad 21?
Di tengah arus pendidikan abad 21 yang sangat menekankan pada penguasaan teknologi dan keterampilan kognitif tingkat tinggi, relevansi kisah Isra Mi’raj justru semakin menguat sebagai penyeimbang moral yang esensial. Pendidikan dasar saat ini tidak hanya dituntut untuk mencetak siswa yang mahir dalam literasi digital, tetapi juga individu yang memiliki ketahanan spiritual di tengah disrupsi informasi yang luar biasa cepat. Kisah perjalanan Rasulullah memberikan jawaban atas kebutuhan manusia akan makna hidup yang lebih dalam daripada sekadar pencapaian materi dan angka-angka statistik prestasi. Guru di sekolah dasar dapat menggunakan narasi ini untuk mengajarkan bahwa di balik kemajuan sains, terdapat nilai-nilai metafisika yang memberikan arah bagi penggunaan ilmu pengetahuan tersebut. Relevansi Isra Mi’raj terletak pada pesannya tentang integritas, di mana Rasulullah tetap menyampaikan kebenaran meskipun tantangan sosial dan penolakan yang dihadapi sangatlah berat. Melalui kisah ini, siswa belajar bahwa kebenaran tetaplah kebenaran, terlepas dari seberapa banyak orang yang meragukannya di era pasca-kebenaran (post-truth) seperti sekarang.
Konteks pendidikan abad 21 seringkali terjebak pada rasionalitas murni yang mengabaikan dimensi hati, padahal karakter anak dibentuk melalui keseimbangan keduanya secara harmonis. Isra Mi’raj menawarkan kerangka berpikir di mana keajaiban dan logika Tuhan menjadi sumber inspirasi bagi anak untuk tetap memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap alam semesta. Kurikulum pendidikan dasar perlu mengintegrasikan nilai-nilai ini agar siswa tidak hanya tumbuh menjadi teknokrat yang cerdas secara mekanis, tetapi juga manusia yang memiliki kesadaran eksistensial. Pendidik dapat membawa relevansi kisah ini ke dalam isu-isu modern, seperti manajemen stres dan kesehatan mental, dengan merujuk pada peristiwa Isra Mi’raj sebagai hadiah bagi Rasulullah di masa sulit. Dengan demikian, siswa memahami bahwa agama bukanlah warisan masa lalu yang usang, melainkan kompas yang sangat hidup dan adaptif terhadap tantangan zaman. Pendidikan yang relevan adalah pendidikan yang mampu memberikan akar yang kuat sekaligus sayap yang lebar bagi pertumbuhan jiwa anak-anak didik kita.
Dr. Aris Munandar, seorang peneliti kurikulum pendidikan Islam, menyatakan bahwa "Relevansi Isra Mi’raj di era modern terletak pada kemampuannya memberikan kerangka etis bagi perkembangan sains dan teknologi yang seringkali berjalan tanpa kendali moral." Beliau menekankan bahwa tanpa pegangan spiritual, anak-anak abad 21 akan mudah kehilangan arah di tengah kompleksitas kehidupan yang semakin individualistis dan materialistis. Oleh karena itu, pengajaran Isra Mi’raj di sekolah dasar harus dikemas dengan pendekatan yang lebih filosofis dan aplikatif, bukan sekadar hafalan tanggal kejadian sejarah semata. Guru berperan penting dalam menunjukkan bahwa nilai kedisiplinan shalat yang dibawa dari Mi’raj adalah kunci kesuksesan dalam manajemen waktu di dunia yang serba cepat ini. Sinergi antara nilai-nilai langit dan kebutuhan bumi akan melahirkan generasi yang unggul secara intelektual sekaligus saleh secara pribadi dan sosial. Inilah inti dari pendidikan yang holistik, di mana masa lalu yang agung menjadi energi pendorong bagi masa depan yang lebih bermartabat dan penuh keberkahan.
Selain itu, relevansi Isra Mi’raj juga tampak dalam cara kita mengajarkan keberanian untuk berpikir "out of the box" namun tetap dalam koridor keimanan yang lurus. Anak-anak abad 21 didorong untuk menjadi inovator, dan kisah perjalanan lintas dimensi ini memberikan stimulasi yang luar biasa bagi perkembangan kognitif mereka untuk membayangkan hal-hal yang melampaui batas fisik. Pendidikan dasar harus mampu menanamkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi mereka yang memiliki tekad kuat dan penyandaran diri yang penuh kepada Sang Pencipta. Isra Mi’raj mengajarkan tentang pentingnya visi besar dalam hidup, di mana perjalanan dari bumi ke langit adalah simbol dari pencapaian tertinggi yang bisa diraih manusia melalui ketaatan. Guru dapat memotivasi siswa agar memiliki semangat "mi’raj" dalam setiap karya yang mereka hasilkan, yaitu semangat untuk selalu naik kelas dan meningkatkan kualitas diri. Dengan cara ini, setiap mata pelajaran akan terasa lebih hidup karena dijiwai oleh semangat perjuangan dan keyakinan akan pertolongan Allah yang Maha Luas.
Sebagai kesimpulan, Isra Mi’raj tetap menjadi fondasi yang kokoh bagi pendidikan dasar di abad 21 karena menawarkan solusi atas kekeringan spiritual yang dialami manusia modern. Mari kita jadikan peringatan ini sebagai titik tolak untuk merevitalisasi metode pengajaran agama agar lebih menyentuh realitas kehidupan anak-anak kita saat ini. Tugas kita adalah memastikan bahwa setiap siswa mampu mengambil hikmah dari perjalanan Rasulullah untuk diterapkan dalam interaksi sosial dan proses belajar mereka setiap hari. Mari kita bimbing mereka untuk menjadi pribadi yang teguh pada prinsip, namun fleksibel dalam beradaptasi dengan kemajuan teknologi tanpa harus mengorbankan iman. Semoga cahaya yang dibawa Rasulullah dari Sidratul Muntaha senantiasa menerangi ruang-ruang kelas kita dan menuntun anak didik kita menuju kesuksesan dunia dan akhirat. Masa depan bangsa ada di tangan generasi yang mampu memadukan kecanggihan abad 21 dengan ketulusan iman yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW empat belas abad yang lalu.