Mengapa Daerah Kaya Pangan Masih Memiliki Angka Stunting Tinggi?
Fenomena paradoks gizi di Indonesia terlihat jelas ketika daerah-daerah yang dikenal sebagai lumbung pangan justru memiliki angka stunting yang cukup memprihatinkan. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan pangan secara fisik di suatu daerah tidak secara otomatis menjamin kecukupan gizi bagi anak-anak di wilayah tersebut. Masalah utama sering kali terletak pada pola distribusi ekonomi, di mana hasil panen terbaik seperti telur, ikan, dan daging justru dijual ke kota demi mendapatkan uang tunai daripada dikonsumsi sendiri. Selain itu, kurangnya pengetahuan masyarakat lokal mengenai teknik pengolahan pangan yang tepat menyebabkan banyak zat gizi hilang selama proses memasak secara tradisional. Guru di daerah agraris atau pesisir menghadapi tantangan unik untuk meyakinkan orang tua bahwa kekayaan alam di sekitar mereka adalah obat terbaik untuk mencegah stunting.
Kurangnya infrastruktur sanitasi dan akses air bersih di daerah kaya pangan juga menjadi faktor kontributor yang seringkali terabaikan dalam analisis stunting. Meskipun anak mendapatkan makanan bergizi, jika lingkungan tempat tinggalnya tidak bersih, mereka akan sering mengalami infeksi seperti diare yang menguras nutrisi di dalam tubuh. Penyakit infeksi yang berulang akan menyebabkan peradangan kronis yang menghambat penyerapan zat gizi oleh usus, yang pada akhirnya berujung pada kondisi stunting. Sekolah-sekolah di daerah produktif ini harus menjadi pusat edukasi yang menekankan hubungan antara pangan, kebersihan, dan pertumbuhan fisik yang optimal. Paradoks ini membuktikan bahwa stunting adalah masalah yang sangat kompleks dan memerlukan pendekatan yang tidak hanya sekedar bagi-bagi makanan tambahan.
Dr. Brian Sriprahastuti, Tenaga Ahli Utama KSP Bidang Kesehatan, menyatakan bahwa "Ketahanan pangan di tingkat wilayah harus diterjemahkan menjadi ketahanan gizi di tingkat piring makan setiap anak agar stunting bisa benar-benar turun." Beliau menekankan pentingnya konvergensi layanan di tingkat desa yang menghubungkan sektor pertanian, kesehatan, dan pendidikan untuk bekerja secara bersamaan. Di daerah kaya pangan, edukasi mengenai "Isi Piringku" harus lebih gencar dilakukan untuk mengubah pola pikir masyarakat dari sekadar menjual hasil bumi menjadi mengonsumsinya secara bijak. Guru di sekolah dasar memiliki peran strategis untuk mengajarkan siswa mencintai dan mengapresiasi pangan lokal sebagai sumber kekuatan fisik dan kecerdasan mereka. Tanpa adanya perubahan perilaku di tingkat keluarga, kelimpahan pangan di suatu daerah hanya akan menjadi statistik ekonomi tanpa makna bagi kualitas hidup manusianya.
Strategi yang dapat diambil oleh sekolah di daerah kaya pangan adalah dengan mengintegrasikan kurikulum berbasis potensi lokal ke dalam setiap mata pelajaran. Misalnya, pelajaran sains dapat membahas kandungan protein pada ikan lokal, sementara pelajaran ekonomi dapat membahas cara mengelola keuangan keluarga tanpa mengorbankan gizi anak. Sekolah juga bisa bekerja sama dengan kelompok tani atau nelayan setempat untuk menyediakan pasokan pangan segar bagi program makan siang sehat di sekolah. Pemberdayaan kebun sekolah dengan menanam sayuran yang memiliki nilai gizi tinggi namun jarang dikonsumsi masyarakat lokal bisa menjadi sarana edukasi yang sangat efektif. Dengan cara ini, sekolah membantu masyarakat menyadari kembali kekayaan nutrisi yang ada di bawah kaki mereka sendiri.
Riset akademik di jenjang doktoral perlu mendalami faktor-faktor sosiokultural yang menyebabkan terjadinya hambatan konsumsi pangan lokal pada daerah-daerah produktif di Indonesia. Kita perlu mencari model kebijakan yang mampu menyeimbangkan antara kebutuhan ekonomi petani/nelayan dengan kebutuhan gizi keluarga mereka sendiri. Kebijakan pemerintah daerah harus didorong untuk memastikan bahwa sebagian dari hasil bumi terbaik tetap tinggal di daerah asal untuk mendukung kesehatan generasi mendatang. Paradoks gizi ini harus dipecahkan dengan kolaborasi yang tulus antara seluruh pemangku kepentingan di tingkat lokal maupun nasional. Mari kita hapus ironi stunting di daerah yang kaya akan sumber daya alam demi keadilan kesehatan bagi seluruh anak Indonesia. Masa depan bangsa yang sehat dimulai dari pemanfaatan kekayaan alam kita secara cerdas dan bermartabat.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita