Mengajarkan Rendah Hati: Meskipun Mulia, Nabi Tetap Menghamba
Salah satu pelajaran paling paradoks namun indah dari peristiwa Isra Mi’raj adalah fakta bahwa meskipun Nabi Muhammad SAW mencapai derajat tertinggi di langit, beliau tetap menyebut dirinya sebagai "hamba" (abdun). Hal ini memberikan pelajaran moral yang sangat fundamental bagi dunia pendidikan dasar tentang pentingnya menanamkan sifat rendah hati (tawadhu) di tengah pencapaian prestasi akademik. Siswa perlu diajarkan bahwa semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang, seharusnya mereka semakin merunduk dan menyadari keterbatasan diri di hadapan kebesaran Allah. Sifat rendah hati adalah kunci untuk terus mau belajar dan menerima masukan dari orang lain, sehingga proses pengembangan diri tidak pernah terhenti karena rasa sombong. Dalam lingkungan sekolah yang sering kali kompetitif, mengajarkan tawadhu menjadi sangat krusial agar siswa tidak terjebak dalam perilaku merendahkan teman atau merasa paling benar sendiri. Rendah hati adalah tanda dari kematangan jiwa dan kebenaran ilmu yang sesungguhnya.
Dalam praktik pendidikan, guru harus menjadi teladan utama dalam menunjukkan sikap rendah hati kepada rekan sejawat maupun kepada para siswanya. Seorang guru yang tawadhu tidak akan malu untuk mengakui kesalahan atau belajar hal baru dari perkembangan teknologi yang mungkin lebih dikuasai oleh siswanya. Dr. Muchlas Samani, pakar pendidikan karakter, mengemukakan bahwa "Karakter rendah hati adalah tanah yang subur bagi tumbuhnya kejujuran, empati, dan kerja sama yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat." Kutipan ini menegaskan bahwa tanpa rendah hati, nilai-nilai karakter lainnya akan sulit untuk berkembang secara natural dalam diri seorang anak. Guru dapat menyisipkan pesan tentang ketawadhuan Rasulullah saat menceritakan perjalanan Mi’raj, di mana beliau tetap bersahaja meskipun telah melihat keajaiban-keajaiban luar biasa. Siswa diajak untuk memahami bahwa prestasi adalah anugerah yang harus disyukuri, bukan alat untuk memamerkan diri atau menindas mereka yang kurang beruntung.
Strategi untuk menanamkan rendah hati di sekolah bisa dilakukan melalui berbagai kegiatan sosial dan pembiasaan yang melibatkan kerja sama tim tanpa memandang peringkat kelas. Guru dapat memberikan tugas proyek kelompok di mana setiap anggota memiliki peran yang sama pentingnya, sehingga siswa belajar untuk menghargai kontribusi orang lain. Diskusi di kelas harus diarahkan pada pemahaman bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang unik sebagai bentuk kekuasaan Allah. Memberikan apresiasi kepada siswa yang menunjukkan sikap santun dan senang membantu teman akan memberikan penguatan positif bahwa karakter jauh lebih utama daripada sekadar angka di buku rapor. Sekolah juga bisa mengadakan kegiatan bakti sosial secara rutin agar siswa dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat dari berbagai lapisan sosial. Interaksi ini akan melatih kepekaan sosial mereka dan menyadarkan bahwa di atas langit masih ada langit, sehingga tidak ada alasan untuk bersikap sombong.
Di lingkungan keluarga, orang tua perlu berhati-hati dalam memuji prestasi anak agar tidak menumbuhkan bibit-bibit narsisme atau rasa bangga yang berlebihan. Pujian sebaiknya difokuskan pada usaha dan proses yang dilakukan anak, serta selalu diiringi dengan pengingat untuk bersyukur kepada Allah atas keberhasilan tersebut. Orang tua juga harus menunjukkan sikap menghargai orang lain, termasuk kepada asisten rumah tangga atau orang di jalan, sebagai pelajaran nyata tentang kesetaraan manusia di mata Tuhan. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang menjunjung tinggi ketawadhuan akan memiliki kecerdasan emosional yang baik dan lebih mudah diterima dalam pergaulan sosial. Budaya diskusi keluarga yang demokratis, di mana pendapat anak didengarkan dengan baik, akan mengajarkan mereka untuk juga menghargai pendapat orang lain saat mereka dewasa nanti. Sinergi antara keteladanan orang tua dan guru dalam hal rendah hati akan mencetak generasi yang berwibawa namun tetap bersahaja.
Sebagai kesimpulan, mari kita jadikan nilai rendah hati sebagai mahkota dari setiap ilmu dan prestasi yang diraih oleh anak didik kita di sekolah dasar. Sebagaimana perjalanan Mi’raj yang membawa Nabi menuju kedekatan dengan Allah, kerendahan hati akan membawa kita menuju kedekatan dengan hakikat kemanusiaan yang sejati. Kita tidak ingin melahirkan ilmuwan atau pemimpin yang sombong, melainkan mereka yang mampu melayani masyarakat dengan penuh cinta dan ketulusan hati. Mari kita terus membimbing tunas-tunas bangsa ini agar memiliki akar iman yang menghujam ke bumi namun memiliki dahan prestasi yang menjulang ke langit. Rendah hati bukan berarti rendah diri, melainkan pengakuan jujur akan ketergantungan kita kepada Sang Pencipta dalam setiap hembusan napas dan langkah kaki. Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk terus menjaga hati agar tetap bersih dari noda kesombongan dan selalu menjadi pribadi yang tawadhu dalam setiap pencapaian hidup.