Mengajarkan Konsep ‘Percaya Sebelum Melihat’ Lewat Kisah Perjalanan Rasulullah
Dalam dunia pendidikan modern yang sangat mengagungkan rasionalitas, mengajarkan konsep iman seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi para pendidik di sekolah dasar. Kisah Isra Mi’raj hadir sebagai instrumen pedagogis yang sempurna untuk memperkenalkan prinsip "percaya sebelum melihat" atau keyakinan pada hal yang gaib. Konsep ini bukan berarti mengabaikan logika, melainkan mengajak siswa untuk memahami bahwa keterbatasan panca indera manusia tidak menafikan keberadaan realitas yang lebih tinggi. Rasulullah SAW mencontohkan bagaimana keyakinan mutlak kepada Allah melahirkan ketenangan di tengah keraguan kaum Quraisy saat itu. Guru dapat membawa narasi ini ke dalam kelas dengan gaya diskusi yang interaktif agar siswa memahami bahwa tidak semua hal di dunia ini harus dibuktikan secara empiris untuk dianggap benar. Keberhasilan menanamkan konsep ini akan membuat siswa memiliki fleksibilitas berpikir dan kedalaman batin dalam menyikapi fenomena kehidupan.
Mengajarkan iman kepada anak-anak memerlukan pendekatan yang lembut namun logis, di mana kisah Isra Mi’raj menjadi bukti nyata kekuatan doa dan kedekatan hamba dengan Tuhannya. Anak-anak seringkali bertanya tentang hal-hal yang tidak kasat mata, dan inilah saat yang tepat bagi guru untuk menjelaskan konsep kekuasaan Allah. Melalui kisah Buraq dan perjalanan melintasi tujuh lapis langit, siswa diajak untuk memperluas cakrawala berpikir mereka melampaui batas dunia fisik yang mereka lihat sehari-hari. Pendidik dapat menekankan bahwa sains pun mengakui adanya dimensi-dimensi yang belum terpetakan, sehingga keimanan sebenarnya sejalan dengan semangat pencarian kebenaran. Percaya pada janji Allah dan mukjizat Rasul adalah langkah awal untuk membentuk mentalitas pejuang yang tidak mudah goyah oleh opini negatif orang lain. Dengan memahami Isra Mi’raj, siswa belajar bahwa kebenaran sejati seringkali memerlukan mata hati untuk dapat dipahami secara utuh.
Profesor Siti Aminah, seorang ahli kurikulum pendidikan dasar, berpendapat bahwa "Mengembangkan kecerdasan spiritual anak melalui kisah mukjizat adalah cara efektif untuk membangun daya tahan mental di tengah ketidakpastian dunia." Beliau menambahkan bahwa kemampuan untuk percaya pada nilai-nilai luhur meskipun belum terlihat hasilnya secara instan adalah ciri dari pribadi yang berintegritas. Pendidikan di sekolah dasar harus berani mengeksplorasi dimensi metafisika ini agar siswa tidak tumbuh menjadi individu yang materialistis. Isra Mi’raj mengajarkan kita bahwa ada kecepatan yang lebih tinggi dari cahaya, yaitu kecepatan niat dan doa yang tulus kepada Sang Khalik. Hal ini sangat relevan untuk diajarkan kepada siswa agar mereka selalu melibatkan Tuhan dalam setiap rencana dan impian yang ingin mereka capai. Dengan demikian, sekolah menjadi tempat persemaian karakter yang tidak hanya mengejar nilai akademis, tetapi juga nilai-nilai ukhrawi.
Selain itu, konsep "percaya sebelum melihat" juga melatih anak untuk memiliki prasangka baik (husnuzan) terhadap segala ketentuan yang diberikan oleh Allah dalam hidup mereka. Dalam konteks sekolah, hal ini bisa berarti percaya bahwa ketekunan belajar akan membuahkan hasil, meskipun saat ini mereka masih merasa sulit dalam memahami pelajaran. Peristiwa Isra Mi’raj menjadi pengingat bahwa setelah kesulitan atau kesedihan (Amul Huzni), Allah memberikan hadiah yang luar biasa bagi hamba-Nya yang sabar. Guru dapat memotivasi siswa dengan analogi bahwa perjalanan hidup mereka adalah sebuah "isra" kecil yang penuh tantangan namun memiliki tujuan akhir yang mulia. Keteladanan Rasulullah dalam mempercayai perintah Allah tanpa ragu sedikitpun menjadi standar moral yang sangat tinggi bagi perkembangan kepribadian anak. Semakin kuat kepercayaan mereka pada hal yang benar, semakin kokoh pula prinsip hidup yang akan mereka pegang hingga dewasa nanti.
Sebagai kesimpulan, mengintegrasikan nilai Isra Mi’raj ke dalam metode pengajaran akan menciptakan ekosistem belajar yang lebih bermakna dan transformatif bagi siswa sekolah dasar. Kita ingin mencetak generasi yang tidak hanya pintar secara kognitif, tetapi juga memiliki kepekaan rasa terhadap kebesaran Tuhan yang Maha Luas. Marilah kita jadikan momentum ini untuk mengajak anak-anak menatap langit dengan penuh harapan, sambil tetap memijakkan kaki di bumi dengan penuh kerendahan hati. Percaya pada hal yang gaib adalah puncak dari intelektualitas manusia yang menyadari keterbatasan dirinya di hadapan kemahakuasaan Allah. Semoga dengan pemahaman yang tepat, kisah Isra Mi’raj mampu mengubah cara pandang siswa terhadap dunia, dari yang sekadar fisik menjadi lebih spiritual. Mari kita terus membimbing mereka untuk terus percaya, terus berupaya, dan selalu bersandar pada kekuatan doa di setiap langkah perjalanan hidup mereka.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita