Menemukan Ketenangan Jiwa (Self-Healing) Lewat Perbaikan Shalat
Fenomena self-healing kini menjadi tren di kalangan masyarakat modern sebagai respons terhadap tingginya tingkat stres dan kecemasan, namun banyak yang lupa bahwa Islam telah menyediakan mekanisme penyembuhan batin yang paling efektif melalui ibadah shalat. Peristiwa Isra Mi’raj yang menghasilkan perintah shalat lima waktu sebenarnya adalah kado terindah bagi manusia agar memiliki waktu jeda untuk berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta di tengah hiruk-pikuk dunia. Di lingkungan pendidikan dasar, mengajarkan shalat bukan hanya soal gerakan fisik, melainkan bagaimana memperkenalkan shalat sebagai sarana untuk menemukan ketenangan jiwa sejak dini. Shalat yang berkualitas atau khusyuk mampu menurunkan kadar kortisol dalam tubuh dan memberikan efek relaksasi yang luar biasa bagi kesehatan mental anak maupun orang dewasa. Jika shalat dipahami sebagai kebutuhan untuk beristirahat dari beban kehidupan, maka tidak akan ada lagi rasa berat untuk melaksanakannya di sela-sela aktivitas harian. Memperbaiki kualitas shalat berarti memperbaiki kualitas hidup, karena di sanalah terjadi proses detoksifikasi hati dari segala penyakit batin yang merusak kebahagiaan.
Proses perbaikan shalat harus dimulai dengan pemahaman bahwa setiap bacaan dan gerakan dalam shalat memiliki makna filosofis yang sangat dalam bagi kestabilan emosional. Sebagai contoh, posisi sujud merupakan simbol ketundukan total yang secara medis juga membantu aliran darah ke otak menjadi lebih lancar dan memberikan rasa tenang. Guru dan orang tua perlu membimbing anak untuk tidak terburu-buru dalam shalat, melainkan menikmati setiap momen perjumpaan dengan Allah sebagai bentuk terapi spiritual. Dr. Dadang Hawari, seorang psikiater terkemuka, dalam banyak literaturnya sering menyebutkan bahwa "Ibadah yang dilakukan dengan penuh penghayatan (khusyuk) memiliki dimensi psikoterapeutik yang mampu memperkuat ketahanan mental seseorang dalam menghadapi krisis." Kutipan ini menegaskan bahwa shalat bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah metode penyembuhan batin yang telah tervalidasi baik secara agama maupun sains. Dengan menjadikan shalat sebagai pusat ketenangan, siswa akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih stabil, fokus, dan tidak mudah terombang-ambing oleh tekanan lingkungan.
Pendidikan di tingkat dasar harus mampu menggeser paradigma shalat dari sekadar kewajiban hukum menjadi sebuah pengalaman spiritual yang menenangkan dan dinanti-nantikan. Sekolah dapat menciptakan suasana shalat berjamaah yang hening dan khidmat, bukan yang terkesan tergesa-gesa karena mengejar jam pelajaran berikutnya. Guru dapat memberikan sesi singkat sebelum shalat untuk menjelaskan satu per satu makna bacaan shalat agar siswa bisa lebih meresapi apa yang mereka ucapkan di hadapan Tuhan. Ketika seorang anak merasakan ketenangan setelah bersujud, mereka akan memahami bahwa shalat adalah tempat pelarian terbaik saat mereka merasa sedih, lelah, atau kecewa. Kemampuan untuk mengelola emosi melalui jalur ibadah ini adalah bekal soft skill yang jauh lebih berharga daripada sekadar prestasi akademik semata. Shalat yang terjaga akan menjadi "jangkar" bagi jiwa anak agar tetap kokoh di tengah badai perubahan zaman yang semakin tidak menentu.
Selain di sekolah, peran orang tua di rumah sebagai model perilaku (role model) dalam menjaga kualitas shalat sangatlah menentukan keberhasilan proses self-healing ini. Jika anak melihat orang tuanya tampak lebih tenang, sabar, dan bijaksana setelah melakukan shalat, mereka akan menyimpulkan bahwa shalat memang memiliki dampak positif bagi kepribadian. Sebaliknya, jika shalat dilakukan hanya sebagai formalitas tanpa ada perubahan perilaku, anak akan kehilangan kepercayaan pada kekuatan transformatif dari ibadah tersebut. Komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak mengenai apa yang dirasakan saat shalat dapat memperkuat pemahaman mereka tentang dimensi spiritual shalat. Jadikan waktu setelah shalat sebagai momen keluarga untuk saling berbagi kasih sayang dan energi positif agar rumah menjadi "baiti jannati". Sinergi antara pemahaman yang benar dan praktik yang konsisten akan melahirkan generasi yang memiliki kesehatan mental yang prima melalui jalur pengabdian pada Ilahi.
Sebagai penutup, mari kita jadikan peringatan Isra Mi’raj tahun ini sebagai momentum untuk memulai gerakan perbaikan shalat di lingkungan keluarga dan sekolah. Kita tidak perlu mencari ketenangan ke tempat yang jauh jika kita sudah memiliki sarana "mikraj" spiritual lima kali sehari di atas sajadah kita sendiri. Pendidikan dasar yang mengintegrasikan kesehatan mental dengan nilai-nilai ibadah akan melahirkan insan kamil yang tangguh secara lahir dan batin. Mari kita ajarkan anak-anak kita bahwa di setiap takbir ada kekuatan, dan di setiap salam ada kedamaian yang tidak bisa dibeli dengan materi apa pun. Shalat yang baik adalah kunci menuju jiwa yang sehat, pikiran yang jernih, dan hati yang penuh dengan cinta kepada sesama makhluk. Semoga kita semua mampu mencapai derajat khusyuk yang akan membawa kita pada ketenangan jiwa sejati di dunia dan akhirat.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita