Mendongengkan Isra Mi’raj: Strategi Guru SD Menarik Minat Siswa
Dunia anak-anak adalah dunia imajinasi yang penuh dengan warna dan rasa ingin tahu yang besar terhadap hal-hal luar biasa di sekitar mereka. Dalam menyampaikan kisah Isra Mi’raj, guru sekolah dasar dituntut untuk memiliki keterampilan bercerita atau mendongeng (storytelling) yang mampu menghidupkan suasana sejarah ke dalam benak siswa. Mendongeng bukan sekadar membacakan teks dari buku, melainkan sebuah seni pertunjukan edukatif yang melibatkan ekspresi wajah, intonasi suara, dan penggunaan alat peraga yang menarik. Melalui dongeng, peristiwa yang terjadi ribuan tahun lalu dapat dihadirkan kembali seolah-olah sedang terjadi di depan mata para siswa secara langsung. Teknik ini sangat efektif untuk menarik minat siswa yang sering kali merasa jenuh dengan metode ceramah konvensional yang cenderung monoton dan membosankan. Dengan narasi yang kuat, pesan-pesan moral dan keimanan dalam Isra Mi’raj dapat terserap secara bawah sadar ke dalam memori jangka panjang siswa.
Penggunaan media pendukung seperti boneka tangan, diorama, atau media audiovisual yang interaktif dapat memperkaya pengalaman belajar siswa saat menyimak kisah Isra Mi’raj. Guru dapat memerankan berbagai karakter dalam cerita atau menggunakan latar belakang musik yang sesuai untuk menciptakan suasana yang emosional dan dramatis. Penting bagi guru untuk menyisipkan nilai-nilai karakter seperti keberanian, kejujuran, dan keteguhan hati Rasulullah di sela-sela jalinan cerita yang sedang disampaikan. Pakar literasi anak, Dr. Bambang Hermanto, berpendapat bahwa "Narasi yang disampaikan dengan penuh penjiwaan akan mampu membangun empati siswa dan memudahkan mereka menginternalisasi nilai-nilai luhur tanpa merasa digurui." Siswa yang merasa terhibur dengan cerita guru akan lebih mudah diajak berdiskusi tentang hikmah yang bisa diambil dari peristiwa perjalanan malam tersebut. Strategi ini mengubah proses belajar agama dari yang semula dianggap sebagai beban hafalan menjadi sebuah petualangan spiritual yang sangat menyenangkan bagi anak-anak.
Dalam mendongengkan Isra Mi’raj, guru juga perlu memperhatikan keakuratan sumber sejarah agar imajinasi yang dibangun tetap berpijak pada fakta religius yang benar. Guru harus mampu membedakan antara bagian yang merupakan fakta sejarah dengan ilustrasi tambahan yang hanya bertujuan untuk memperjelas suasana tanpa mengubah esensi ajaran. Keterlibatan aktif siswa dalam dongeng, misalnya dengan mengajak mereka menebak apa yang terjadi selanjutnya atau memerankan fragmen kecil, akan meningkatkan retensi informasi mereka. Suasana kelas yang interaktif seperti ini akan merangsang kemampuan komunikasi dan keberanian siswa untuk bertanya tentang hal-hal yang belum mereka pahami sepenuhnya. Guru bertindak sebagai sutradara sekaligus navigator yang mengarahkan imajinasi siswa agar tetap selaras dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Melalui dongeng yang berkualitas, guru telah membangun jembatan emosional yang kokoh antara siswa dengan sosok teladan mulia, Nabi Muhammad SAW.
Selain aspek kognitif, mendongeng juga merupakan sarana yang sangat ampuh untuk menyentuh aspek afektif atau perasaan siswa terhadap agama mereka. Saat menceritakan pertemuan Rasulullah dengan para Nabi terdahulu di Masjidil Aqsha, guru dapat menanamkan nilai toleransi dan rasa persaudaraan sesama umat manusia. Penjelasan mengenai keindahan surga dan kengerian neraka yang disaksikan Rasulullah harus disampaikan dengan bijak agar menumbuhkan rasa optimisme dan keinginan untuk berbuat baik. Guru harus memastikan bahwa pesan utama dari dongeng tersebut adalah betapa besarnya kasih sayang Allah kepada hamba-Nya melalui perintah shalat lima waktu. Jika siswa sudah merasa jatuh cinta dengan kisah Nabi, maka mereka akan memiliki motivasi diri (self-motivation) untuk mencontoh perilaku Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Inilah keberhasilan sejati dari seorang guru SD dalam memanfaatkan teknik mendongeng sebagai strategi pembelajaran yang holistik dan bermakna.
Sebagai langkah tindak lanjut, guru dapat memberikan tugas kepada siswa untuk menceritakan kembali kisah Isra Mi’raj dengan bahasa mereka sendiri di depan kelas atau melalui tulisan. Hal ini akan melatih kemampuan literasi sekaligus mengevaluasi sejauh mana pesan-pesan moral dari dongeng tersebut telah dipahami oleh siswa secara mendalam. Memberikan ruang bagi kreativitas siswa untuk membuat gambar atau proyek kecil terkait Isra Mi’raj juga akan semakin memperkuat pemahaman mereka terhadap materi tersebut. Lingkungan sekolah yang kaya akan narasi-narasi inspiratif akan membentuk budaya literasi dan religiusitas yang sehat bagi perkembangan jiwa anak. Mari kita jadikan momentum Isra Mi’raj ini sebagai ajakan bagi seluruh guru untuk kembali mengasah keterampilan bercerita demi masa depan generasi yang berilmu dan bertaqwa. Dengan dongeng yang tepat, kita sedang menanam benih-benih kebaikan yang akan terus tumbuh dan berbuah di sepanjang hayat anak didik kita kelak.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita