Menanamkan Benih Iman: Memaknai Isra Mi’raj dalam Dunia Anak SD
Peristiwa Isra Mi’raj bukan sekadar perjalanan sejarah yang agung, melainkan fondasi spiritual yang sangat krusial bagi perkembangan jiwa anak-anak di tingkat sekolah dasar. Di usia ini, anak-anak berada pada fase operasional konkret di mana mereka mulai membangun pemahaman tentang dunia dan penciptanya melalui bimbingan guru dan orang tua. Menanamkan benih iman melalui kisah perjalanan malam Rasulullah Muhammad SAW memberikan ruang bagi imajinasi positif untuk tumbuh selaras dengan keyakinan tauhid. Guru di sekolah dasar memegang peranan vital dalam menyederhanakan narasi yang kompleks menjadi nilai-nilai kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Dengan pendekatan yang tepat, anak tidak hanya sekadar menghafal tanggal kejadian, tetapi merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap detak jantung dan aktivitas harian mereka. Iman yang ditanamkan sejak dini akan menjadi akar yang kuat bagi pembentukan karakter anak di masa depan.
Dunia anak adalah dunia penuh keajaiban, dan Isra Mi’raj menawarkan narasi luar biasa yang dapat merangsang kecerdasan spiritual serta rasa ingin tahu mereka secara positif. Melalui kisah ini, pendidik dapat memperkenalkan konsep kemahakuasaan Allah yang melampaui batas ruang dan waktu tanpa membuat anak merasa tertekan oleh dogma yang kaku. Anak-anak diajak untuk memahami bahwa dalam hidup ini ada hal-hal yang bersifat transenden dan hanya bisa dicapai dengan kebersihan hati serta ketaatan. Pengajaran yang kreatif, seperti melalui dongeng atau multimedia, akan membuat nilai-nilai Isra Mi’raj melekat erat dalam memori jangka panjang siswa. Fokus utama bukan hanya pada aspek fisik perjalanan, melainkan pada pesan moral tentang kemuliaan akhlak yang ditunjukkan oleh Rasulullah. Ketika anak-anak mulai mencintai Rasulnya, maka proses penanaman iman akan berjalan lebih alami dan bermakna bagi kehidupan mereka.
Dr. Ahmad Fauzi, seorang pakar psikologi pendidikan Islam, menyatakan bahwa "Masa kanak-kanak adalah periode golden age di mana nalar spiritual harus dibentuk melalui narasi yang menggugah empati dan kekaguman terhadap kebesaran Ilahi." Beliau menekankan bahwa tanpa penguatan iman sejak dini, anak-anak akan kehilangan kompas moral di tengah arus informasi digital yang semakin deras. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan dasar harus mampu mengintegrasikan momen Isra Mi’raj ke dalam pembelajaran karakter yang berkelanjutan. Hal ini bertujuan agar siswa tidak memandang agama sebagai beban aturan, melainkan sebagai sumber kekuatan dan ketenangan jiwa. Pendidik harus mampu menjembatani antara logika anak yang masih berkembang dengan hakikat mukjizat yang bersifat metafisik. Dengan demikian, setiap langkah anak di sekolah akan senantiasa diiringi oleh kesadaran akan pengawasan Allah yang Maha Melihat.
Penerapan makna Isra Mi’raj di sekolah dasar juga dapat diwujudkan melalui pembiasaan ibadah yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan kebahagiaan. Ibadah shalat, yang merupakan oleh-oleh utama dari peristiwa tersebut, harus diajarkan bukan sebagai rutinitas mekanis, melainkan sebagai bentuk komunikasi cinta antara hamba dengan Sang Pencipta. Guru perlu memberikan teladan bagaimana shalat mampu merubah perilaku seseorang menjadi lebih santun, jujur, dan peduli terhadap sesama teman. Lingkungan sekolah yang religius akan mendukung anak untuk mempraktikkan nilai-nilai kesucian hati yang menjadi syarat utama perjalanan Mi’raj Rasulullah. Melalui atmosfer pendidikan yang suportif, anak-anak akan belajar bahwa iman adalah cahaya yang akan menerangi jalan mereka saat menghadapi kesulitan. Sinergi antara kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam memaknai Isra Mi’raj akan melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual dan kokoh secara spiritual.
Sebagai penutup, menanamkan benih iman melalui peristiwa Isra Mi’raj adalah investasi jangka panjang untuk membangun peradaban bangsa yang berakhlak mulia. Keberhasilan pendidikan dasar tidak hanya diukur dari angka-angka di rapor, tetapi dari seberapa dalam nilai-nilai ketuhanan terpatri dalam sanubari setiap siswa. Mari kita jadikan peringatan Isra Mi’raj sebagai momentum untuk mengevaluasi kembali metode pengajaran agama di sekolah-sekolah agar lebih relevan dengan tantangan zaman. Pendidikan yang berbasis pada penguatan iman akan menghasilkan individu yang tangguh, tidak mudah menyerah, dan selalu optimis dalam menatap masa depan. Harapannya, anak-anak didik kita akan tumbuh menjadi manusia yang mampu melakukan 'mi’raj' atau pendakian spiritual dalam setiap prestasi yang mereka raih. Mari kita bimbing mereka dengan penuh kesabaran agar benih iman tersebut tumbuh menjadi pohon yang rimbun dan berbuah manfaat bagi semesta.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita