Menanamkan Adab Sebelum Ilmu: Belajar dari Persucian Hati Nabi Muhammad
Sebelum melakukan perjalanan Isra Mi’raj yang luar biasa, dada Rasulullah SAW dibelah oleh malaikat Jibril untuk dibersihkan hatinya dengan air zamzam dan diisi dengan iman serta hikmah. Peristiwa simbolis yang sangat penting ini memberikan pelajaran pedagogis yang mendasar bagi dunia pendidikan, yaitu urgensi menanamkan adab dan kebersihan hati sebelum menerima ilmu pengetahuan. Ilmu yang besar membutuhkan wadah yang bersih agar tidak disalahgunakan atau justru membuat pemiliknya menjadi sombong dan merusak tatanan kehidupan. Di tingkat pendidikan dasar, para guru harus memberikan perhatian ekstra pada pembentukan karakter dan perilaku siswa sebelum mengejar target-target nilai akademik yang tinggi. Tanpa adab yang baik, kecerdasan intelektual hanya akan melahirkan individu yang pintar secara teknis namun kering secara kemanusiaan dan spiritual. Belajar dari persucian hati Nabi, kita diingatkan bahwa kesiapan batin adalah syarat mutlak untuk menerima pancaran cahaya kebenaran dan ilmu yang bermanfaat.
Dalam praktiknya di sekolah, menanamkan adab berarti mengajarkan siswa tentang tata krama berkomunikasi, menghargai waktu, hingga empati kepada sesama teman dan guru. Guru perlu menekankan bahwa setiap tindakan belajar harus didasari oleh niat yang tulus dan hati yang bersih dari sifat-sifat tercela seperti iri hati dan kebencian. Pembiasaan kecil seperti mengucapkan salam, meminta maaf saat berbuat salah, dan berterima kasih adalah bentuk nyata dari "pencucian hati" secara bertahap bagi siswa. Sebagaimana ungkapan masyhur dari Imam Malik yang sering dikutip oleh para pakar pendidikan, "Pelajarilah adab sebelum kamu mempelajari suatu ilmu," yang menekankan bahwa adab adalah fondasi utama bangunan intelektual. Kutipan ini menjadi peringatan keras bagi sistem pendidikan modern yang sering kali terlalu fokus pada penguasaan materi tanpa mempedulikan kematangan perilaku siswanya. Dengan hati yang bersih, siswa akan lebih mudah menyerap ilmu karena tidak ada penghalang mental (mental block) yang berupa kesombongan atau ketidakjujuran.
Proses pembersihan hati dalam konteks sekolah dasar juga bisa dilakukan melalui kegiatan refleksi diri atau muhasabah yang dilakukan secara rutin di awal atau akhir pekan. Guru dapat membimbing siswa untuk merenungkan perilaku mereka selama di sekolah dan mengajak mereka untuk berkomitmen memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan. Hal ini melatih kemampuan metakognisi siswa, di mana mereka belajar untuk memantau dan mengevaluasi kondisi spiritual dan emosional mereka sendiri secara sadar. Lingkungan sekolah yang menghargai kejujuran dan sportivitas akan sangat membantu siswa dalam menumbuhkan hati yang sehat dan terbuka terhadap masukan positif. Peran guru di sini adalah sebagai teladan hidup (living model) yang menunjukkan adab yang mulia dalam setiap tutur kata dan tindakannya di hadapan para siswa. Jika guru bisa menunjukkan sikap rendah hati dan penuh kasih, maka siswa akan dengan sukarela mencontoh perilaku tersebut sebagai bagian dari identitas diri mereka.
Selain di sekolah, peran orang tua di rumah sangat menentukan keberlanjutan proses penanaman adab ini agar tidak terputus karena perbedaan lingkungan. Orang tua harus menyadari bahwa rumah adalah tempat pertama di mana hati anak dibentuk melalui interaksi harian yang penuh dengan nilai-nilai moral. Sering kali anak-anak yang memiliki masalah perilaku di sekolah berawal dari kurangnya perhatian terhadap pendidikan adab di lingkungan keluarga mereka sendiri. Oleh karena itu, sinergi antara sekolah dan rumah dalam menjaga "kebersihan hati" anak menjadi sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar lagi dalam sistem pendidikan yang sehat. Memberikan apresiasi yang tinggi terhadap perubahan perilaku siswa ke arah yang lebih baik akan memotivasi mereka untuk terus menjaga adab di mana pun mereka berada. Pendidikan yang dimulai dari hati akan sampai ke hati pula, menciptakan lingkaran kebaikan yang terus berputar di tengah masyarakat yang semakin kompleks tantangannya.
Sebagai kesimpulan, mari kita jadikan inspirasi dari peristiwa pembelahan dada Nabi Muhammad sebagai pengingat untuk selalu mengutamakan adab di atas segala pencapaian ilmu pengetahuan. Sekolah harus menjadi tempat yang tidak hanya memintarkan otak, tetapi juga menghaluskan budi pekerti dan menyucikan hati para tunas bangsa yang sedang tumbuh. Keberhasilan pendidikan nasional sejatinya diukur dari sejauh mana lulusannya mampu menunjukkan karakter yang mulia dan bermanfaat bagi kemanusiaan secara luas. Jangan sampai kita melahirkan generasi yang ahli dalam teknologi namun miskin dalam etika karena kita lalai dalam menanamkan adab sejak dini di bangku sekolah dasar. Mari kita terus berusaha menjaga hati kita dan hati anak-anak kita agar selalu layak menjadi tempat bersemayamnya ilmu-ilmu Tuhan yang penuh dengan keberkahan. Dengan adab yang kokoh, ilmu yang kita pelajari akan menjadi cahaya yang menuntun kita menuju kebahagiaan sejati di dunia dan di akhirat kelak.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita