Membentuk Pribadi yang Optimis Melalui Keyakinan pada Pertolongan Allah
Peristiwa Isra Mi’raj adalah puncak dari optimisme Islam yang mengajarkan bahwa setelah setiap masa sulit pasti akan datang kemudahan yang gemilang dari arah yang tidak disangka-sangka. Bagi dunia pendidikan dasar, menanamkan sikap optimis kepada siswa adalah memberikan mereka "senjata" terkuat untuk menghadapi masa depan yang penuh dengan ketidakpastian dan perubahan cepat. Optimisme yang dibangun di atas keyakinan pada pertolongan Allah (tawakkal) akan membuat anak tidak mudah depresi saat menghadapi kegagalan atau rintangan dalam belajar. Mereka akan melihat setiap hambatan sebagai kesempatan untuk bertumbuh dan semakin dekat dengan keberhasilan yang telah dijanjikan Tuhan bagi mereka yang bersungguh-sungguh. Siswa yang optimis memiliki daya juang yang lebih tinggi dan kesehatan mental yang lebih stabil karena mereka memiliki sandaran spiritual yang tidak terbatas. Inilah nilai fundamental yang harus menjadi bagian integral dari kurikulum pendidikan karakter untuk melahirkan generasi pemenang yang bermental baja.
Dalam kajian psikologi positif, optimisme adalah salah satu indikator utama bagi kebahagiaan dan kesuksesan jangka panjang seseorang dalam kehidupan profesional maupun personal. Namun, optimisme dalam Islam bukan sekadar berpikir positif yang kosong, melainkan harapan yang aktif disertai dengan usaha maksimal dan doa yang tak terputus. Dr. Aidh Al-Qarni dalam bukunya yang fenomenal menyatakan bahwa "Optimisme adalah bahan bakar jiwa yang membuat seseorang mampu melihat cahaya di balik kegelapan dan jalan keluar di tengah kesempitan." Kutipan ini relevan untuk diaplikasikan dalam mendidik siswa agar mereka selalu memiliki harapan besar terhadap masa depan mereka sendiri maupun masa depan bangsanya. Guru dapat memberikan penguatan bahwa Allah selalu sesuai dengan prasangka hamba-Nya, sehingga kita diperintahkan untuk selalu berprasangka baik (husnudzon) terhadap setiap ketetapan-Nya. Sikap optimis ini akan terpancar dalam semangat belajar siswa yang tinggi, keceriaan dalam bergaul, serta keberanian untuk mencoba hal-hal baru yang bermanfaat.
Membangun pribadi optimis di sekolah dapat dilakukan dengan menciptakan lingkungan yang suportif dan apresiatif, di mana kesalahan dianggap sebagai bagian dari proses belajar yang wajar. Guru perlu menghindari pemberian label negatif kepada siswa yang lambat dalam memahami materi, karena label tersebut dapat membunuh optimisme dan kepercayaan diri mereka sejak dini. Gunakanlah kata-kata yang memotivasi dan penuh harapan saat berinteraksi dengan siswa, agar mereka merasa didukung untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri. Menceritakan kisah sukses para ilmuwan Muslim yang tetap optimis meskipun berulang kali mengalami kegagalan dapat menjadi suntikan semangat bagi siswa di kelas. Selain itu, kegiatan yang melatih kemandirian dan penyelesaian masalah (problem solving) akan memperkuat rasa efikasi diri siswa bahwa mereka mampu mengatasi kesulitan dengan pertolongan Allah. Sekolah harus menjadi tempat di mana harapan ditumbuhkan dan mimpi-mimpi anak diberikan sayap untuk terbang tinggi menuju realitas kesuksesan.
Di lingkungan keluarga, orang tua harus menjadi sumber optimisme pertama bagi anak dengan menunjukkan ketenangan dan keyakinan saat menghadapi masalah keluarga sehari-hari. Hindari mengeluhkan keadaan ekonomi atau kesulitan hidup secara berlebihan di depan anak, karena hal itu dapat menularkan rasa pesimis dan kecemasan kepada mereka. Sebaliknya, ajaklah anak untuk selalu melihat sisi baik dari setiap peristiwa dan mendiskusikan solusi-solusi kreatif yang bisa dilakukan bersama-sama dengan melibatkan doa. Orang tua perlu menanamkan keyakinan bahwa setiap anak memiliki rezeki dan garis kesuksesannya masing-masing yang sudah diatur dengan sangat indah oleh Allah SWT. Dengan merasa dicintai dan didukung oleh keluarga yang optimis, anak akan memiliki modalitas mental yang kuat untuk bereksplorasi dan berprestasi di sekolah tanpa rasa takut yang berlebihan. Sinergi antara optimisme di sekolah dan di rumah akan melahirkan generasi yang memiliki resiliensi tinggi dan integritas spiritual yang kokoh.
Mari kita jadikan semangat Isra Mi’raj sebagai dasar untuk membentuk pribadi anak-anak didik kita yang penuh dengan optimisme dan iman. Kita sedang mempersiapkan pemimpin masa depan yang harus memiliki mentalitas "langit" dalam berpikir dan mentalitas "bumi" dalam bekerja serta melayani. Optimisme adalah warisan paling berharga yang bisa kita berikan kepada anak cucu kita agar mereka mampu menghadapi tantangan global dengan kepala tegak dan hati yang tenang. Mari kita terus percaya bahwa pertolongan Allah selalu dekat bagi mereka yang mau berusaha, berdoa, dan menjaga kebersihan hatinya dalam menuntut ilmu. Semoga seluruh upaya kita dalam mendidik generasi rabbani di tingkat sekolah dasar ini mendapatkan keberkahan dan membuahkan hasil yang gemilang bagi kemajuan peradaban. Dengan keyakinan penuh pada pertolongan Allah, mari kita melangkah maju menuju masa depan yang penuh cahaya, kemuliaan, dan kesuksesan yang abadi.