Membangun Solidaritas Sosial di Kelas yang Majemuk
Sumber: Gemini AI
Indonesia adalah negara yang sangat majemuk, dan kemajemukan ini jika tidak dikelola dengan baik bisa menjadi sumber konflik; namun jika direkat dengan solidaritas, ia akan menjadi kekuatan dahsyat. Kelas sekolah dasar adalah tempat latihan terbaik untuk menenun solidaritas sosial tersebut. Solidaritas sosial berbeda dengan sekadar toleransi; toleransi mungkin berarti "membiarkan", tetapi solidaritas berarti "bekerja sama" dan "saling menanggung". Di kelas yang majemuk, guru harus aktif merancang aktivitas yang memaksa siswa untuk saling bergantung satu sama lain (positive interdependence) demi mencapai tujuan bersama.
Metode pembelajaran kooperatif (cooperative learning) seperti jigsaw atau proyek kelompok adalah alat ampuh untuk membangun solidaritas. Dalam metode ini, siswa dengan latar belakang, kemampuan, dan etnis yang berbeda disatukan dalam satu tim. Mereka tidak bisa sukses sendirian; keberhasilan kelompok bergantung pada kontribusi setiap anggota. Siswa yang pintar matematika harus membantu temannya yang lemah, dan siswa yang jago menggambar membantu memvisualisasikan ide kelompok. Proses saling bantu ini meruntuhkan egoisme dan membangun ikatan persaudaraan yang organik. Solidaritas tumbuh dari keringat yang menetes bersama saat berjuang.
Guru juga perlu membangun budaya "Satu Tubuh" di dalam kelas, mengambil filosofi bahwa jika satu bagian sakit, semua ikut merasakan sakit. Jika ada siswa yang mengalami musibah, seluruh kelas digerakkan untuk memberikan dukungan moral atau materi semampu mereka. Jika ada siswa yang diejek, seluruh kelas diajarkan untuk membelanya. Rasa senasib sepenanggungan ini adalah esensi dari gotong royong, nilai asli bangsa Indonesia. Solidaritas sosial di kelas menjadi antitesis dari budaya individualisme kompetitif yang sering kali diajarkan di sistem ranking konvensional.
Membangun solidaritas juga berarti mengajarkan cara mengelola konflik (conflict resolution) secara damai. Di kelas yang majemuk, gesekan pasti terjadi. Guru tidak boleh sekadar menjadi hakim yang memvonis siapa salah, tetapi menjadi mediator yang membimbing siswa mencari solusi win-win. Siswa diajarkan untuk bernegosiasi, meminta maaf dengan tulus, dan memaafkan. Keterampilan mengelola konflik ini sangat krusial bagi warga negara majemuk agar tidak mudah terprovokasi kekerasan komunal di masa depan. Damai itu bukan tidak ada konflik, tapi kemampuan menyelesaikan konflik dengan kepala dingin.
Kelas yang penuh solidaritas adalah miniatur Indonesia yang ideal. Ketika siswa terbiasa saling bahu-membahu dengan teman yang berbeda agama atau suku di sekolah, mereka akan membawa kebiasaan itu ke masyarakat luas. Mereka akan menjadi perekat bangsa yang mencegah keretakan sosial. Pendidikan dasar bukan hanya soal mencetak individu sukses, tetapi mencetak komunitas yang solid. Mari kita bangun tembok solidaritas yang kuat di setiap ruang kelas, agar rumah besar Indonesia tetap kokoh berdiri selamanya.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita