Membangun Integritas Siswa Melalui Pemahaman Pengawasan Allah (Ihsan)
Peristiwa Isra Mi’raj memberikan penegasan tentang kedekatan hamba dengan Tuhannya, yang dalam terminologi Islam dikenal sebagai konsep Ihsan, yakni beribadah seolah-olah melihat Allah. Bagi siswa sekolah dasar, pemahaman tentang pengawasan Allah (muraqabah) adalah pondasi utama dalam membangun integritas dan kejujuran di mana pun mereka berada. Jika seorang anak sudah merasa diawasi oleh Sang Pencipta yang Maha Melihat, mereka tidak akan berani melakukan tindakan tidak terpuji meskipun tidak ada guru atau orang tua yang melihat. Integritas yang lahir dari kesadaran spiritual jauh lebih kuat dan stabil dibandingkan integritas yang hanya didorong oleh aturan formal atau rasa takut pada hukuman manusia. Konsep Ihsan mendidik anak untuk selalu berbuat baik (itqan) dalam setiap pekerjaan karena mereka sadar bahwa setiap detak jantung dan pikiran mereka diketahui oleh Allah. Inilah inti dari pendidikan karakter yang sesungguhnya, yaitu membangun kontrol internal yang kokoh di dalam jiwa setiap peserta didik.
Dalam konteks persekolahan, konsep Ihsan dapat diimplementasikan dalam hal-hal sederhana seperti kejujuran saat mengerjakan ujian atau tanggung jawab dalam menjaga kebersihan kelas. Guru perlu sering mengingatkan bahwa Allah adalah saksi atas segala perbuatan, yang seharusnya menumbuhkan rasa malu untuk berbuat curang atau malas-malasan. Pendidikan integritas berbasis Ihsan ini membantu siswa mengembangkan hati nurani yang peka terhadap nilai-nilai kebenaran dan keadilan sejak usia dini. Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy mengungkapkan bahwa "Pendidikan karakter yang efektif adalah yang mampu mentransformasi kesadaran ketuhanan menjadi perilaku sosial yang etis dan bertanggung jawab." Kutipan ini menekankan bahwa spiritualitas tidak boleh berhenti di tempat ibadah, melainkan harus tercermin dalam integritas perilaku sehari-hari di sekolah dan masyarakat. Siswa yang memahami konsep Ihsan akan tumbuh menjadi individu yang mandiri dalam kebaikan dan tidak mudah terpengaruh oleh arus negatif di lingkungannya.
Proses internalisasi nilai Ihsan memerlukan kreativitas pendidik agar tidak terkesan sebagai ancaman, melainkan sebagai bentuk kasih sayang dan kedekatan Allah. Guru dapat memberikan ilustrasi bahwa pengawasan Allah ibarat cahaya yang selalu menuntun kita agar tidak tersesat di kegelapan, sehingga kita selalu merasa aman dan terlindungi. Melalui diskusi tentang Isra Mi’raj, siswa diajak memahami bahwa pertemuan Nabi dengan Allah adalah puncak dari pengakuan atas pengabdian yang dilakukan dengan penuh Ihsan. Pujian dan apresiasi harus diberikan kepada siswa yang menunjukkan kejujuran, bukan sekadar kepada mereka yang mendapatkan nilai angka tertinggi namun dengan cara yang diragukan. Hal ini akan memberikan pesan kuat bahwa proses yang jujur jauh lebih dihargai daripada hasil akhir yang diperoleh secara manipulatif. Lingkungan sekolah yang menjunjung tinggi nilai Ihsan akan menciptakan atmosfer belajar yang penuh berkah, tenang, dan jauh dari budaya kompetisi yang tidak sehat.
Di rumah, orang tua memiliki peran yang tidak kalah penting dalam menjaga nyala api Ihsan dalam jiwa anak melalui keteladanan dan dialog yang jujur. Orang tua harus membiasakan diri untuk selalu jujur dalam hal-hal kecil, karena anak akan belajar tentang integritas dari apa yang mereka lihat pada figur otoritas terdekatnya. Hindari memberikan janji yang tidak ditepati atau berbohong di depan anak, karena hal itu akan merusak pemahaman mereka tentang konsep pengawasan Tuhan. Ajaklah anak berefleksi sebelum tidur tentang kebaikan apa yang telah dilakukan hari itu dan bagaimana mereka merasakan kehadiran Allah dalam aktivitas mereka. Dengan membiasakan anak untuk selalu terhubung dengan Allah secara batiniah, orang tua sedang membangun benteng moral yang akan melindungi anak dari godaan zaman yang semakin kompleks. Kesadaran akan kehadiran Allah akan membuat anak memiliki harga diri yang tinggi dan tidak mudah terjatuh pada perilaku menyimpang.
Sebagai refleksi penutup, membangun integritas melalui pemahaman Ihsan adalah investasi jangka panjang untuk menghasilkan generasi yang jujur dan berakhlak mulia. Isra Mi’raj mengajarkan kita bahwa kedekatan dengan Allah adalah kunci utama menuju kemuliaan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Mari kita jadikan sekolah dan rumah sebagai laboratorium untuk mempraktikkan nilai-nilai Ihsan dalam setiap sendi kehidupan kita secara konsisten. Kita ingin lulusan pendidikan dasar kita bukan hanya pintar dalam matematika atau sains, tetapi juga memiliki "radar" kejujuran yang selalu menyala di dalam hatinya. Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan bagi kita untuk terus membimbing anak-anak kita menuju derajat Ihsan yang sempurna. Dengan integritas yang bersumber dari keimanan, kita yakin generasi masa depan akan membawa bangsa ini menuju kejayaan yang penuh dengan keberkahan dan keadilan.