Membangun Budaya Sekolah yang Religius Pasca Peringatan Isra Mi’raj
Peringatan Isra Mi’raj seharusnya menjadi momentum bagi setiap sekolah dasar untuk melakukan transformasi budaya sekolah menjadi lebih religius, disiplin, dan penuh dengan aura ketaqwaan. Budaya sekolah yang religius tidak hanya diukur dari banyaknya simbol keagamaan yang terpajang, melainkan dari bagaimana nilai-nilai ketuhanan terinternalisasi dalam setiap interaksi antara warga sekolah. Setelah acara peringatan usai, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjaga semangat Isra Mi’raj agar tetap hidup dalam rutinitas harian siswa dan guru. Sekolah harus mampu menciptakan atmosfer yang mendukung siswa untuk selalu menjalankan shalat tepat waktu, berkata jujur, dan memiliki adab yang luhur kepada sesama. Budaya religius ini akan menjadi hidden curriculum yang sangat kuat pengaruhnya dalam membentuk karakter siswa secara bawah sadar dalam jangka panjang. Guru sebagai motor penggerak utama harus memberikan teladan yang konsisten agar nilai-nilai spiritualitas tidak hanya berhenti pada retorika di panggung peringatan semata.
Membangun budaya religius memerlukan komitmen kolektif dan desain lingkungan yang sistematis agar ketaqwaan menjadi bagian alami dari identitas setiap siswa di sekolah tersebut. Salah satu langkah konkretnya adalah dengan penguatan program shalat berjamaah yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan bimbingan spiritual dari para guru secara rutin. Selain itu, integrasi doa-doa pendek dalam setiap pergantian jam pelajaran dapat menjadi pengingat bagi siswa bahwa Allah selalu hadir dalam setiap proses pencarian ilmu mereka. Budaya apresiasi terhadap kejujuran dan prestasi karakter harus lebih ditonjolkan dibandingkan sekadar apresiasi terhadap nilai akademik yang bersifat kuantitatif. Sekolah yang religius akan melahirkan rasa aman dan tenang bagi seluruh warganya, karena setiap konflik diselesaikan dengan cara-cara yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Transformasi budaya ini adalah bentuk nyata dari membumikan hasil perjalanan langit Rasulullah ke dalam tatanan kehidupan nyata di lingkungan pendidikan dasar kita.
Pakar manajemen sekolah, Dr. Sulaiman Efendi, menyatakan bahwa "Budaya sekolah yang kuat secara religius akan meningkatkan efektivitas pembelajaran karena terciptanya disiplin internal yang lahir dari rasa takut kepada Allah dan rasa cinta kepada kebenaran." Beliau menekankan bahwa pasca peringatan Isra Mi’raj, pihak sekolah harus segera merumuskan program-program tindak lanjut yang dapat mengawal perubahan perilaku siswa secara berkelanjutan. Misalnya, program 'Satu Hari Satu Kebaikan' yang terinspirasi dari semangat perjalanan Rasulullah yang penuh berkah bagi seluruh alam semesta. Guru juga disarankan untuk menyelipkan hikmah-hikmah singkat tentang Isra Mi’raj dalam sesi nasihat pagi atau saat menutup pelajaran agar memori siswa tetap terjaga. Lingkungan sekolah yang beraura religius akan membuat siswa merasa bangga dengan identitas keislaman mereka dan termotivasi untuk terus berprestasi demi kemuliaan agama. Budaya religius adalah pagar yang akan menjaga anak-anak kita dari pengaruh budaya luar yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur ketimuran dan keislaman.
Lebih jauh lagi, keterlibatan orang tua dalam membangun budaya religius di sekolah sangatlah penting agar terjadi sinkronisasi nilai antara rumah dan lingkungan pendidikan. Sekolah dapat secara berkala berbagi informasi atau buletin singkat tentang bagaimana orang tua dapat melanjutkan penguatan nilai Isra Mi’raj di lingkungan keluarga masing-masing setiap harinya. Sinergi antara guru dan orang tua akan menciptakan ekosistem pendidikan yang solid dalam menjaga tumbuh kembang karakter religius anak-anak kita di masa kini. Refleksi bersama secara rutin mengenai perkembangan adab siswa dapat menjadi sarana evaluasi yang efektif untuk memperbaiki budaya sekolah dari waktu ke waktu. Kita ingin melihat sekolah dasar bukan hanya sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi sebagai taman jiwa di mana ketaqwaan tumbuh subur dan mewangi dalam setiap perbuatan. Budaya religius adalah investasi peradaban yang hasilnya akan dirasakan oleh bangsa ini dalam bentuk lahirnya pemimpin-pemimpin yang takut kepada Allah dan sayang kepada rakyatnya.
Oleh karena itu mari kita jadikan pasca peringatan Isra Mi’raj ini sebagai garis start untuk berlari lebih kencang dalam membangun budaya sekolah yang penuh dengan nilai-nilai ketuhanan. Budaya religius yang kita bangun hari ini adalah warisan terbaik yang bisa kita berikan kepada generasi mendatang agar mereka tetap teguh di jalan yang lurus. Mari kita kuatkan barisan, perbaiki niat, dan tingkatkan ikhtiar kita dalam menjadikan setiap sudut sekolah sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta. Semoga setiap langkah kecil kita dalam memperbaiki budaya sekolah dicatat sebagai amal saleh yang akan memberatkan timbangan kebaikan kita di hari kiamat kelak. Tugas kita adalah menanam, dan biarkan Allah yang menumbuhkan serta memanen hasilnya dalam bentuk karakter mulia anak didik kita di masa depan. Mari terus bersemangat, karena membangun budaya religius adalah bagian dari dakwah yang sangat mulia untuk menyelamatkan masa depan generasi emas Indonesia yang bertaqwa.