Membaca di Balik Baris: Mengajak Siswa SD Mengkritisi Buku Teks
Sumber: Gemini AI
Buku teks pelajaran sering kali dianggap sebagai kitab suci yang memuat kebenaran tunggal dan tidak boleh dipertanyakan validitasnya oleh siswa maupun guru. Namun, dalam perspektif literasi kritis, buku teks hanyalah salah satu sumber informasi yang ditulis oleh manusia dengan segala keterbatasan dan bias perspektifnya. Mengajak siswa SD untuk "membaca di balik baris" atau mengkritisi buku teks adalah latihan intelektual tingkat tinggi yang sangat penting untuk membangun nalar kritis. Siswa diajarkan untuk tidak menelan informasi mentah-mentah, tetapi menganalisis siapa penulisnya, apa tujuannya, dan apakah ada sudut pandang yang hilang. Kemampuan ini adalah fondasi pertahanan diri dari hoaks dan propaganda di masa depan.
Latihan ini bisa dimulai dengan hal-hal sederhana, misalnya menganalisis gambar ilustrasi dalam buku cerita atau buku pelajaran bahasa Indonesia. Guru bisa bertanya, "Mengapa dalam gambar ini dokter selalu laki-laki dan perawat selalu perempuan?" atau "Mengapa tokoh yang jahat digambarkan dengan ciri fisik tertentu?". Diskusi ini membuka mata siswa tentang stereotip gender, ras, atau kelas sosial yang sering kali tersembunyi dalam materi pelajaran. Siswa belajar menyadari bahwa teks dan gambar bisa membentuk persepsi bawah sadar kita tentang orang lain dan bangsa kita sendiri. Kesadaran ini penting untuk membangun karakter yang inklusif dan adil.
Dalam pelajaran sejarah atau IPS, kritik buku teks bisa dilakukan dengan membandingkan satu sumber dengan sumber lainnya untuk melihat perbedaan narasi. Jika buku teks menyebutkan sebuah peristiwa sejarah, guru bisa mengajak siswa mencari artikel lain yang mungkin memberikan detail tambahan atau perspektif berbeda. Tujuannya bukan untuk mendiskreditkan buku teks, melainkan melengkapi pemahaman siswa bahwa sejarah itu kompleks dan multidimensi. Siswa diajarkan sikap skeptis yang sehat: "Apakah cerita ini sudah lengkap? Siapa yang tidak diceritakan di sini?". Sikap ini akan melahirkan warga negara yang selalu haus akan kebenaran dan fakta yang menyeluruh.
Mengkritisi buku teks juga berarti melatih siswa untuk peka terhadap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, apakah sesuai dengan Pancasila atau tidak. Jika ada teks bacaan yang dirasa kurang mencerminkan semangat persatuan atau toleransi, siswa diajak untuk memperbaikinya atau menulis ulang dengan versi mereka sendiri. "Jika kamu jadi penulis buku ini, bagaimana kamu akan menceritakan bagian ini agar lebih adil?" tanya guru. Aktivitas rewriting atau menulis ulang ini sangat memberdayakan (empowering) karena menempatkan siswa sebagai produsen pengetahuan, bukan sekadar konsumen pasif. Mereka belajar bertanggung jawab atas narasi yang mereka buat.
Membaca kritis adalah keterampilan bertahan hidup (survival skill) yang paling berharga di abad informasi ini, di mana banjir informasi sering kali menenggelamkan kebenaran. Dengan melatih siswa SD mengkritisi buku teks, kita sedang menyiapkan mereka menjadi pembaca yang cerdas dan warga negara yang waspada. Mereka tidak akan mudah dihasut oleh tulisan provokatif di media sosial karena sudah terbiasa membedah struktur dan motif di balik sebuah teks. Patriotisme di era digital membutuhkan ketajaman literasi, dan itu dimulai dari keberanian mempertanyakan apa yang tertulis di halaman buku pelajaran.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita