Memanusiakan Hubungan Guru-Siswa sebagai Basis Cinta Tanah Air
Sumber: Gemini AI
Pada intinya, pendidikan adalah proses interaksi antar-manusia; secanggih apapun teknologi, ia tidak bisa menggantikan sentuhan kemanusiaan dalam membentuk karakter. Memanusiakan hubungan guru-siswa berarti memandang siswa sebagai subjek yang utuh—yang punya perasaan, mimpi, masalah, dan potensi unik—bukan sekadar objek yang harus diisi ilmunya. Pedagogi kritis menekankan humanisme ini sebagai fondasi utama. Hubungan yang humanis, penuh kasih sayang (pedagogy of love), dan saling menghargai adalah basis paling kokoh untuk menanamkan cinta tanah air. Logikanya sederhana: bagaimana siswa bisa mencintai tanah air yang abstrak, jika mereka tidak merasakan cinta dan penghargaan di lingkungan terdekatnya, yaitu sekolah?
Memanusiakan hubungan dimulai dengan hal-hal sederhana: menyapa siswa dengan nama mereka, menanyakan kabar dengan tulus, dan mendengarkan keluh kesah mereka tanpa menghakimi. Guru yang humanis tidak mempermalukan siswa yang nilainya jelek di depan umum, tetapi membimbingnya dengan sabar. Sikap menghargai harkat dan martabat manusia yang ditunjukkan guru ini adalah pelajaran PKn yang paling nyata. Siswa belajar bahwa di negara ini, setiap warga negara berhak diperlakukan dengan hormat dan adil. Pengalaman diperlakukan secara manusiawi akan membuat siswa tumbuh menjadi orang yang juga memanusiakan orang lain.
Ketika siswa merasa dicintai dan diterima apa adanya oleh gurunya, rasa memiliki (sense of belonging) terhadap sekolah dan komunitasnya akan tumbuh subur. Rasa memiliki inilah cikal bakal dari patriotisme. Siswa akan menjaga nama baik sekolah, merawat fasilitas kelas, dan berbuat baik kepada teman, karena mereka merasa sekolah adalah "rumah" yang penuh kasih. Transisi perasaan dari mencintai kelas menuju mencintai negara akan terjadi secara mulus. Patriotisme menjadi perluasan dari rasa cinta terhadap komunitas kecil tempat mereka tumbuh dan dihargai.
Sebaliknya, hubungan guru-siswa yang kaku, transaksional, atau bahkan penuh kekerasan verbal, akan menanamkan benih kebencian dan antipati. Siswa yang sering disakiti hatinya oleh otoritas sekolah akan tumbuh menjadi pribadi yang sinis terhadap otoritas negara dan hukum. Mereka akan melihat negara sebagai entitas yang menindas, sama seperti mereka melihat guru yang menindas. Oleh karena itu, pendekatan humanis bukan sekadar strategi mengajar, tetapi strategi kebudayaan untuk memutus rantai kekerasan dan membangun bangsa yang penuh welas asih.
Guru adalah representasi wajah negara di depan kelas. Jika wajah itu ramah, peduli, dan memanusiakan, maka siswa akan mencintai negaranya dengan tulus. Mari kita bangun patriotisme dari hati ke hati, dengan menjadikan ruang kelas sebagai oase kemanusiaan di mana setiap jiwa dirayakan keberadaannya. Cinta tanah air bermula dari cinta guru kepada muridnya, dan cinta murid kepada gurunya. Inilah fondasi emosional yang tak tergoyahkan bagi persatuan Indonesia.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita