Melibatkan Siswa SD sebagai "Duta Gizi" di Lingkungan Sekolah
Program pemilihan "Duta Gizi" di tingkat sekolah dasar merupakan inovasi kepemimpinan siswa yang bertujuan untuk menciptakan model peran (role model) sebaya dalam perilaku hidup sehat. Siswa yang terpilih sebagai Duta Gizi bukan sekadar simbol prestasi, melainkan agen perubahan yang memiliki tanggung jawab untuk menginspirasi rekan-rekannya dalam memilih nutrisi yang tepat. Di lingkungan sekolah, Duta Gizi dapat bertugas memantau kebersihan kantin, mengajak teman-temannya mencuci tangan, hingga membagikan informasi menarik tentang bekal sehat harian. Pengaruh teman sebaya (peer influence) sering kali jauh lebih kuat daripada instruksi guru, sehingga keberadaan duta ini sangat efektif untuk mengubah norma sosial di sekolah menjadi lebih sadar gizi. Melalui program ini, sekolah sedang memupuk tanggung jawab kolektif terhadap kesehatan fisik seluruh warga sekolah.
Pelatihan bagi para Duta Gizi harus dirancang secara komprehensif, mencakup pengetahuan dasar nutrisi, keterampilan komunikasi persuasif, hingga kemampuan deteksi dini masalah gizi sederhana. Mereka diajarkan cara menjelaskan konsep "Isi Piringku" dengan bahasa yang sederhana dan menarik bagi teman-teman di kelas rendah. Aktivitas Duta Gizi bisa diintegrasikan dengan jadwal piket kelas atau kegiatan upacara bendera, di mana mereka diberikan waktu untuk menyampaikan "Pesan Gizi Pekan Ini". Dengan memberikan panggung bagi siswa, sekolah secara tidak langsung meningkatkan kepercayaan diri dan keterampilan sosial mereka sambil tetap fokus pada agenda kesehatan. Keberhasilan program Duta Gizi diukur dari sejauh mana perubahan kebiasaan jajan siswa di sekolah menjadi lebih selektif dan berkualitas.
Menurut Prof. Dr. Arif Sumantri, pakar kesehatan masyarakat, "Memberdayakan siswa sebagai subjek dalam program gizi adalah langkah cerdas untuk memastikan keberlanjutan pesan kesehatan di tingkat akar rumput pendidikan." Beliau berpendapat bahwa anak-anak yang diberikan kepercayaan untuk menjadi Duta Gizi akan merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mempraktikkan hidup sehat di dalam maupun di luar sekolah. Program ini juga dapat mengurangi beban kerja guru dalam pengawasan harian terhadap perilaku kesehatan siswa yang sangat dinamis. Kolaborasi antara Duta Gizi sekolah dengan petugas Puskesmas setempat akan memperkuat jaringan pengawasan tumbuh kembang siswa secara lebih terintegrasi. Pendidikan bukan hanya tentang transfer ilmu, tetapi juga tentang memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkontribusi nyata bagi komunitasnya.
Untuk menjaga antusiasme program, sekolah dapat mengadakan jambore atau kompetisi antar Duta Gizi yang fokus pada inovasi kampanye kesehatan kreatif di sekolah masing-masing. Penghargaan bagi Duta Gizi terbaik dapat diberikan dalam bentuk beasiswa atau fasilitas pendukung belajar lainnya sebagai bentuk apresiasi sekolah. Program ini juga harus melibatkan orang tua agar mereka mendukung penuh aktivitas anak mereka sebagai penggerak gizi di lingkungan rumah. Selain itu, Duta Gizi dapat didorong untuk memanfaatkan media sosial secara positif dengan mengunggah konten-konten edukatif mengenai pencegahan stunting bagi audiens sebaya mereka. Transformasi digital dalam kampanye gizi yang digerakkan oleh siswa akan memberikan dampak jangkauan yang lebih luas dan kekinian.