Kompetensi Profesional Guru Sejarah: Fokus pada Critical Thinking dan Narasi Multiperspektif
Sumber: https://share.google/images/P97PwSOXBgnel9flQ
Kompetensi profesional guru sejarah kini difokuskan pada pengembangan kemampuan berpikir kritis (critical thinking) dan narasi multiperspektif pada siswa. Pelatihan berkelanjutan khusus dirancang untuk guru sejarah agar tidak hanya mengajarkan fakta kronologis, tetapi juga analisis mendalam terhadap peristiwa sejarah. Guru dituntut untuk mampu membimbing siswa dalam memahami berbagai sudut pandang dan interpretasi sejarah. Sejarah adalah ilmu interpretasi.
Materi pelatihan mencakup metodologi historiografi modern, teknik analisis sumber primer dan sekunder, serta cara memfasilitasi debat historis di kelas. Guru diajarkan untuk tidak memihak pada satu narasi tunggal, melainkan membuka ruang bagi diskusi yang kaya dan beragam. Kompetensi ini mendorong guru untuk menciptakan pembelajaran sejarah yang kontekstual, relevan, dan memprovokasi pemikiran kritis siswa. Ini adalah sejarah yang hidup dan dinamis.Peningkatan kompetensi ini secara langsung akan membentuk kompetensi pedagogik guru dalam merancang asesmen yang mengukur kemampuan analisis, bukan sekadar hafalan. Guru juga akan lebih mahir dalam menumbuhkan toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan pandangan di kalangan siswa. Kompetensi kepribadian guru akan terasah dalam menjaga objektivitas dan memfasilitasi dialog yang beradab. Sejarah harus menjadi pelajaran kebijaksanaan.
Tantangan utama adalah mengubah kebiasaan lama yang mungkin masih berorientasi pada hafalan fakta dan narasi tunggal. Diperlukan akses yang lebih luas ke sumber-sumber sejarah yang beragam dan terbaru bagi guru. Kepala sekolah harus mendukung guru sejarah dalam mengadopsi metode pembelajaran inovatif yang memerlukan diskusi dan eksplorasi lebih dalam. Kurikulum ini membutuhkan guru yang berani membuka diskusi.
Kompetensi profesional guru sejarah yang fokus pada critical thinking dan multiperspektif diharapkan mampu menciptakan generasi muda yang bijak, toleran, dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi tunggal. Guru sejarah adalah penjaga memori kolektif bangsa yang harus mengajarkan makna, bukan hanya angka tahun. Sejarah menjadi alat untuk memahami masa kini dan merencanakan masa depan.