Ketika Guru Bukan Satu-satunya Sumber Kebenaran di Kelas
Sumber: Gemini AI
Era digital telah meruntuhkan monopoli guru sebagai satu-satunya pemegang otoritas pengetahuan dan kebenaran di dalam ruang kelas sekolah dasar. Hari ini, siswa bisa dengan mudah menemukan fakta sejarah, peta dunia, atau definisi pahlawan hanya dengan mengetikkan kata kunci di mesin pencari internet dalam hitungan detik. Fenomena ini menuntut pergeseran paradigma yang mendasar bagi guru: dari "sumber ilmu" menjadi "fasilitator kebijaksanaan" dan pemandu navigasi informasi. Jika guru masih bersikeras memposisikan diri sebagai satu-satunya kebenaran yang tidak boleh disanggah, ia akan kehilangan relevansi dan kredibilitas di mata siswa "digital native". Pedagogi kritis menyambut pergeseran ini sebagai peluang untuk mendemokratisasi proses belajar.
Mengakui bahwa "Ibu/Bapak Guru tidak tahu segalanya" bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kejujuran intelektual yang patut diteladani oleh siswa. Ketika siswa bertanya sesuatu yang guru belum tahu, guru bisa mengajak siswa untuk mencari jawabannya bersama-sama melalui sumber-sumber yang kredibel. Momen ini mengajarkan keterampilan riset dan validasi informasi yang jauh lebih berharga daripada sekadar mendapatkan jawaban instan. Siswa belajar bahwa kebenaran harus diuji dan dicari, bukan diterima begitu saja dari otoritas. Dalam konteks kebangsaan, ini melatih siswa untuk tidak mudah percaya pada satu sumber berita saja, melainkan selalu melakukan cek dan ricek.
Peran baru guru adalah membantu siswa menyintesiskan banjiaran informasi yang mereka dapatkan menjadi pengetahuan yang bermakna dan bernilai etis. Google mungkin bisa memberi tahu siswa kapan Perang Surabaya terjadi, tetapi Google tidak bisa mengajarkan siswa merasakan emosi pengorbanan dan makna nasionalisme di balik peristiwa itu sebaik sentuhan manusiawi guru. Guru bertugas memberikan konteks, muatan nilai, dan orientasi moral atas data-data yang ditemukan siswa. Di sinilah letak keunggulan guru yang tak tergantikan oleh kecerdasan buatan manapun: kemampuan menanamkan rasa dan karakter.
Desentralisasi kebenaran di kelas juga mendorong terciptanya budaya dialog yang egaliter dan saling memperkaya antara guru dan murid. Siswa merasa dihargai ketika temuan atau pendapat mereka didengarkan dan dijadikan bahan diskusi kelas, meskipun berbeda dengan buku teks. Hal ini menumbuhkan rasa percaya diri dan kemandirian berpikir, dua modal utama untuk menjadi warga negara yang aktif. Kelas menjadi komunitas pembelajar (learning community) di mana setiap orang, termasuk guru, terus belajar dan berkembang bersama. Kebenaran menjadi milik bersama yang dikonstruksi melalui dialog yang sehat.
Guru harus legawa melepaskan mahkota "maha tahu"-nya demi pertumbuhan intelektual siswa yang lebih optimal dan kritis. Dengan tidak menjadi satu-satunya sumber kebenaran, guru justru mengajarkan pelajaran terpenting tentang kerendahan hati dan semangat pembelajar sepanjang hayat. Patriotisme yang dibangun di atas dasar pencarian kebenaran yang jujur akan jauh lebih kokoh daripada patriotisme yang dibangun di atas dogma yang kaku. Mari kita jadikan kelas kita sebagai ruang kolaborasi pencarian kebenaran, bukan ruang indoktrinasi satu arah.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita