Isra Mi'raj Sebagai Refleksi Pembentukan Karakter Mahasiswa
Peristiwa Isra’ Mi’raj
bukan sekadar mukjizat perjalanan malam, melainkan sebuah madrasah besar bagi
kaum intelektual, khususnya mahasiswa. Di tengah dinamika dunia kampus yang
penuh tekanan, peristiwa ini menawarkan kompas moral untuk membentuk karakter
yang tangguh. Mahasiswa diajak untuk melihat bahwa pencapaian tertinggi
(Mi’raj) hanya bisa diraih dengan landasan spiritual yang kokoh.
Kedisiplinan menjadi poin
pertama dalam refleksi ini. Perintah shalat lima waktu yang dijemput Nabi
Muhammad SAW dalam peristiwa tersebut adalah latihan manajemen waktu yang
paling dasar. Mahasiswa yang mampu menjaga waktu shalatnya secara konsisten
akan memiliki ritme kerja yang teratur, mampu memprioritaskan tugas, dan tidak
mudah terombang-ambing oleh gaya hidup yang serba instan.Selain itu, Isra’
Mi’raj mengajarkan tentang integritas dan kejujuran akademik. Saat Nabi kembali
dan menceritakan pengalamannya, beliau menghadapi skeptisisme yang luar biasa.
Namun, beliau tetap teguh menyampaikan kebenaran. Mahasiswa harus memiliki
karakter serupa, yakni berani mempertahankan kebenaran ilmiah dan menjauhi
praktik kecurangan seperti plagiarisme demi mengejar nilai semata.
Terakhir, peristiwa ini
melambangkan semangat eksplorasi tanpa batas. Mi’raj adalah simbol perjalanan
menuju puncak ilmu pengetahuan (Sidratul Muntaha). Mahasiswa sebagai agen
perubahan tidak boleh merasa cepat puas dengan ilmu yang dimiliki. Mereka harus
terus "naik" secara intelektual, melakukan riset, dan memperluas
cakrawala berpikir untuk memberikan solusi bagi permasalahan bangsa di masa
depan.
Editor : Ihza Latifatun Ni’mah