Isra Mi'raj dan Urgensi Harmoni Ilmu serta Iman
Peristiwa Isra Mi'raj menjadi simbol perjalanan menuju peningkatan kualitas diri. Rasulullah SAW menerima perintah salat sebagai fondasi spiritual umat Islam. Perintah tersebut menegaskan pentingnya hubungan manusia dengan Tuhan. Dalam dunia akademik, hubungan spiritual memberikan arah dan makna terhadap pencarian ilmu.
Prestasi akademik tanpa nilai spiritual berpotensi kehilangan orientasi moral. Ilmu yang tidak disertai etika dapat disalahgunakan. Isra Mi'raj mengajarkan bahwa setiap pencapaian harus dilandasi tanggung jawab moral. Pesan tersebut relevan bagi pengembangan pendidikan yang berkarakter.
Spiritualitas membantu membentuk sikap rendah hati dalam meraih prestasi. Kesadaran bahwa ilmu bersumber dari Tuhan mendorong sikap bersyukur. Sikap tersebut mengurangi kecenderungan sombong dan kompetisi tidak sehat. Dengan demikian, suasana akademik menjadi lebih kondusif dan humanis.
Pendidikan dasar hingga perguruan tinggi perlu menanamkan harmoni antara ilmu dan iman. Kurikulum dapat mengintegrasikan nilai spiritual dalam pembelajaran. Pendekatan tersebut tidak mengurangi objektivitas ilmiah. Justru, nilai tersebut memperkuat karakter dan integritas akademik.
Isra Mi'raj juga mengajarkan pentingnya disiplin dan konsistensi. Salat sebagai kewajiban harian melatih pengelolaan waktu dan komitmen. Keterampilan tersebut sangat mendukung keberhasilan akademik. Disiplin spiritual berkontribusi terhadap kedisiplinan belajar.
Melalui refleksi Isra Mi'raj, keseimbangan akademik dan spiritual menjadi tujuan bersama. Prestasi tidak hanya diukur dari capaian angka, tetapi juga dari kualitas karakter. Pendidikan pun berfungsi sebagai sarana pembentukan manusia yang utuh. Harmoni ilmu dan iman menjadi fondasi kemajuan peradaban.